Sabtu, 23 April 2016

HIKAYAT NEGERI KUNTU

HIKAYAT NEGERI KUNTU 1. Kuntu Dalam Catatan sejarah Menurut buku Sejarah Riau yang disusun oleh tim penulis dari Universitas Riau terbitan tahun 1998/1999, Kuntu adalah daerah yang pertama-tama di Riau yang berhubungan dengan pedagang-pedagang asing dari Cina, India, Arab dan Persia. Kuntu juga daerah pertama yang memainkan peranan dalam sejarah Riau, karena daerah lembah Sungai Kampar Kiri adalah daerah penghasil lada terpenting di seluruh dunia dalam periode antara 500-1400 masehi. Zaman dahulu, Kuntu dikenal sebagai daerah yang subur dan berperan sebagai gudang penyedia bahan baku lada, rempah-rempah dan hasil hutan. Pelabuhan ekspornya adalah Samudra Pasai, dengan pasar besarnya di Gujarat. Kuntu juga adalah wilayah yang strategis sebab terletak terbuka ke Selat Melaka, tanpa dirintangi pegunungan. Kuntu juga adalah tanah tua yang mula-mula dimasuki Islam yang dibawa oleh para pedagang dan di masa itu baru dianut di kalangan terbatas (pedagang) karena masih kuatnya pengaruh agama Budha yang menjadi agama resmi Sriwijaya di masa itu. Ketika Cina merebut pasaran dagang yang menyebabkan para pedagang Islam Arab-Persia terdesak, maka penyebaran Islam sempat terhenti. Para pedagang Arab-Persia-Maroko mulai kembali berdagang di Kuntu dalam abad ke XII Masehi di masa kekuasaan Kesultanan Mesir era Fatimiyah, dinasti yang mendirikan Universitas Al Azhar di Kairo. Kuntu juga memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Islam Dayah di Aceh di bawah Sultan Johan Syah dalam hal perniagaan. Setelah kerajaan Pasai berdiri, mereka bahkan berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah di Kuntu. dalam buku Sedjarah Minangkabau (1970), Kesultanan Aru Barumun merupakan sebuah kesultanan yang menganut ajaran agama Islam Syiah dan lepas dari Kesultanan Samudera Pasai yang telah menganut Mazhab Syafi’i. Kesultanan Aru Barumun didirikan oleh Sultan Malik As Saleh, Sultan Samudera Pasai yang pertama. Berdiri pada 1299, Kesultanan Aru Barumun menempatkan pusat pemerintahan di daerah yang kini kita kenal dengan nama Labuhan Bilik. Pada 1301 Kesultanan Aru Barumun berhasil menguasai Kerajaan Darmasraya, sehingga praktis monopoli lada di Sungai Kampar Kiri-Kanan serta Sungai Batanghari, dikuasai oleh Kesultanan Aru Barumun. Tidak hanya itu saja, penguasaan atas Kerajaan Darmasraya secara langsung memutus perkembangan agama Budha Tantrayana yang dibawa oleh penguasa sebelumnya, yaitu Kerajaan Singasari dan menggantikannya dengan agama Islam. Rakyat Kerajaan Singasari yang telah bermukim di daerah ini sejak 1286 dan berkebun lada di sana, terpaksa harus melarikan diri ke lereng Gunung Kembar Merapi/ Singgalang. Di sana mereka mendirikan perkampungan dengan nama Singasari dan mengembangkan pusat perdagangan lada. Akibatnya, lada tidak hanya diangkut ke Pantai Timur Sumatera saja, melainkan juga diangkut ke Pesisir, Pantai Barat Sumatera. Bandar lada baru ini ramai didatangi oleh para pedagang dari Gujarat/India. Bandar baru inilah yang dikenal dengan nama Pariaman (M.D. Mansoer, et.al., 1970:54-55). Penguasaan atas Rantau Kampar Kiri oleh Kesultanan Aru Barumun, pada perkembangan kemudian berhasil mendirikan Kesultanan Kuntu Kampar (M.D. Mansoer, et.al., 1970:54). Sultanan Kuntu Darussalam dinasti Aru barumun, ini bertahan selama 50 tahun dengan empat orang Raja dengan gelar Perkasa Alam. Kerajaan Singasari yang kini telah bersulih menjadi Kerajaan Majapahit berusaha untuk tetap meneruskan dominasi penguasaan lada di tanah Melayu. Akhirnya dikirimlah kekuatan militer ke tanah Melayu untuk membebaskan Kerajaan Darmasraya sekaligus mengembalikan dominasi penguasaan lada di Sungai Kampar Kiri- Kanan serta Sungai Batanghari. Ekspedisi Pamalayu jilid 2 yang kali ini diprakarsai oleh Kerajaan Majapahit, ternyata menuai hasil gemilang. Adityawarman sebagai utusan sekaligus pemimpin pasukan dari Majapahit, sukses mendapatkan kembali monopoli lada yang sebelumnya diambil oleh Kesultanan Aru Barumun yang mendirikan Kesultanan Kuntu Kampar. Pada 1347, Adityawarman telah berhasil menguasai daerah perdagangan lada di Sungai Batanghari. Bahkan pada tahun yang sama Adityawarman juga menyatakan diri sebagai raja dari kerajaan di Swarnnabhumi (Sumatera) yang meliputi kawasan Sungai Langsat-Sungai Dareh-Rambahan-Padang Roco yang merupakan kawasan di Minangkabau Timur yang dekat dengan Batanghari (M.D. Mansoer, et.al., 1970:55). Sebagai upaya menanamkan monopoli secara lebih luas, Adityawarman juga menyerang dan menaklukkan Kesultanan Kuntu Kampar pada 1349. Dengan ditaklukkannya Kesultanan Kuntu Kampar, berarti Adityawarman telah memonopoli perdagangan lada di kedua daerah yang penting, yaitu Sungai Kampar Kanan-Kiri dan Sungai Batanghari. 2. Kuntu Dalam hikayat Masyarakat Adat Dalam hikayat tutur masyarakat adat dikenegrian Kuntu disebutkan bahwa, sebelum negeri kuntu berdiri masyarakat adatnya tinggal di seberang sungai di suatu tempat yang bernama batang Siontan. Disanalah kampuang tuo dari negeri kuntu sekarang ini, kampuang di sungai siontan ini terkenal dengan hasil emas dan lada hitamnya disana pada masa lampau hidup seorang putri yang bernama Puti Lindung Bulan. Putri Lindung Bulan sangat cantik dan terkenal kemanca Negara, pada waktu itu masyarakatnya belum mengenal agama Islam. Pada suatu hari datanglah Hulubalang Raja Feratu Gading dari laut hendak meminang Putrid Lindung Bulan, akan tetapi lamaran ini ditolak oleh sang putri. Setelah mendengar lamarannya ditolak, maka murkalah sang Faratu Gading. Maka di utuslah hulubalang untuk merebut putrid lindung yakni Gagak jawo. Gagak jawo adalah hulubalang yang sangat sakti dengan para prajutit tangguh datang ke kuntu kampar kiri. Mendengar kedatangan kedatangan Hulubalang Gagak jawo, maka penduduk pun tidak sanggup melawan lalau mereka melarikan diri kehulu sungai sibayang. Dalam pelarian tersebut Putri Lindung Bulan terjatuh di tepi sungai Subayang, dan keluarlah ucapan yang secara tidak terduga yakni kata “ Kuntu Toerobah ”. Kata –kata tersebut belum dimengerti oleh masyarakat akan maknanya. Setelah gagak jawo datang dan tidak menemukan rakyat dan Putri Lindung Bulan, maka gagak jawo.mengejar rombongan Putri Lindung Bulan sampai ke hulu subayang. Sampai ke batu songgan. Dibatu songgan gagak jawo juga gagal untuk merebut Putri Lindung Bulan. Untuk melampiaskan kemarahannya maka gagak jawo memancung batu besar di pinggir sungai sebanyak tiga kali tebasan dan menantang setiap dubalang untuk berperang. Disebabkan kesaktian gagak jawo maka tidak ada satu dubalang pun yang berani untuk menghadapinya. Foto : Batu Concang Gagak Jawo di Batu Songgan Setelah tidak bisa menemukan Putri Lindung Bulan maka gagak jawo dan prajuritnya kembali kehilir, sambil merampok dan membunuh penduduk yang ditemukan maka dia berhenti di negeri pasir Amo untk berpesta kemenagan. Pesta kemenangan ini dilakukan sambil meminum tuak dari batang enau dengan wadah minumnya bumbung dari bamboo atau buluh. Gagak jawuo merampas, merampok dan memperkosah gadis-gadis dalam pesta tersebut dengan disertai minum tuok sampai mabuk berhari-hari. Masyarakat yang marah atas ulah gagak jawo kemudian bermusyawarah untuk membunuhnya. Maka disiapkanlah para dubalang pilihan untuk membuat tuak dari pohon enau sebanyak-banyak, sementara bubung bamboo atau buluh untuk minum tuak itu diruncingkan pada ujung nya. Kemudian gagak jawau yang sedak mabuk tuak ini, diberikan minuman sebnyaknya kemudian mulutnya di tusuk dengan ujung gelas tuak yang runcing itu secara bersama-sama, maka tewaslah gagak jawo. Tempat terbunuhnya gagak jawo ini kemudian disebut dengan nama Pasir Amo , yang berasal dari kata pasamoan atau membunuh dengan cara keroyokan. Sekarang negeri ini diganti nama dengan Desa Gemah, terletak di kecamatan kampar kiri Hulu. Setelah gagak jawo berhasil dibunuh, maka masyarakat kembali kenegeri masing-masing, masyarakat kuntu yang tadinya bermukim di dalam sungai Siontan kemudian pindah ketepi batang sibayang membuat negeri baru negeri tersebut diberi nama Koto Tenggi, yang terletak di daerah Desa Kuntu Darussalam hari ini. Kemudian mengingat ucapan Putri Lindung Bulan yang jatuh dalam pelarian yakni ucapab “Kuntu terobah”. Maka kemudian Koto Tenggi itu berganti nama dengan Negeri Kuntu. ( Sumber : Alm. Jasar Karana Datuk Mudo ) HIKAYAT SYECH BURHANUDDIN a. Menurut catatan Buku Makam Syech Burhanuddin merupakan salah satu Wisata Religi yang terdapat di kabupaten Kampar. Makam Syech Burhanuddin berada di Desa Kuntu Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar. Makam ini cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan, terutama menjelang bulan ramadhan,mereka datang dengan tujuan memberi doa kepada Syech Burhanuddin. Desa Kuntu secara administratif termasuk dalam kawasan Kecamatan Kampar kiri Kabupaten Kampar, desa ini berjarak lebih kurang 3jam dari pekanbaru, akses untuk mencapai Desa ini begitu gampang karena jalan sudah diaspal, dari Pekanbaru perjalanan kita arahkan menuju Lipat Kain, Tugu Equator (Tugu Khatulistiwa) menjadi ikon Lipat Kain, dan hanya berjarak beberapa kilometer dari Tugu Equator kita akan menjumpai persimpangan tiga, di persimpangan tiga tersebut akan kita jumpai sebuah rambu petunjuk menuju Desa Kuntu dan Desa Gema. Dari persimpangan tersebut menuju Desa Kuntu lebih kurang berjarak 14km. Tidak banyak catatan sejarah mengenai Syech Burhanudin. Syech Burhanuddin kampar ini adalah murid Syech Abdullah Arif, Almarhum Syech Burhanuddin adalah salah seorang penyebar Agama Islam yang juga merupakan tuan guru dari Tarekat Naqsybandiah. Kemudian Syech Burhanuddin menetap dan menyiarkan Islam di Kuntu, Riau, selama 20 tahun hingga meninggal pada tahun 1191 dan dimakamkan di tepian sungai Sebayang, Desa Kuntu. Sebelum menyebarkan agama Islam di Kuntu, Syech Burhanuddin selama 30tahun telah menyiarkan agama Islam selama 30tahun di Sumatra Barat. Banyak hal-hal menarik yang dianggap keramat oleh masyarakat, baik pengikutnya maupun masyarakat luas, yang kemudian menjadikan imam ini menjadi mulia. Salah satunya adalah dua batu nisan yang menandai makamnya. Makam tuan guru Tarekat Naqsabandiah ini ditandai dengan batang kayu sungkai yang kini telah menjadi batu. Beberapa barang peninggalannya dipegang oleh keturunannnya baik buku kotbah, kitab, stempel, pedang maupun baju kebesarannya, menurut warga disekitar makam, sejak ditanam hingga sekarang belum ada yang bisa mencabut kayu ataupun batu nisan tersebut, bahkan seekor gajah yang mencoba mencabut dengan belalai,gajah tersebut langsung mati. b. Menurut Hikayat Rakyat Kampar Kiri. Menurut hikayat adat turun temurun dalam cerita rakyat kampar kiri, bahwa tokoh syekh Burhanuddin adalah seorang Muballigh Islam yang menyebarkan islam terawal di Rantau Kampar Kiri. Menurut hikayatnya beliau ini berasal dari Negeri Arab, hanya saja di dalam cerita rakyat tidak diketahui periode waktu kedatangannya. Menurut cerita para tetuo bahwa beliau datang disaat masyarakat Kampar Kiri, terutama masyarakat negeri Kuntu belum lagi mengenal ajaran islam atau zaman “ Apik tupai Panggang Kaluang”. Zaman apik tupai panggang kaluang ini kemungkinan masa periode zaman masyarakat masih beragama Hindu dan Budha. Pada masa ini negeri Kuntu adalah suatu pelabuhan dagang malayu tua di tanah Riau ini. Disana terdapat pelabuhan dagang bagi daerah penghasil rempah-rempah terutama lada hitam (merica) dan hasil alam lainynya seperti hasil hutan dan juga hasil tambang yakn emas dari daerah sumatera tengah. Tentu saja hasil ala mini sangat dibutuhkan oleh bangsa lain seperti bangsa India, Cina adan Arab. Dimana kurun waktu abad ke 7-11 masehi adalah masa kekuasaan bangsa-bangsa tersebut dalam perdagangan dunia. Pengaruh Islam pada periode abad ke 7-abad 11 masehi itu adalah berasal lansung dari tanah Arab, melalui kekuasaan Daulah Umayyah, Abasiyah, maupun dinasti Fatimiyyah di Mesir. Melihat mazhab yang dikembangkan oleh Syekh Burhanuddin di Kuntu Kampar kiri yakni Mazhab Sunni ( Ahlusunnah wal Jamaan) dengan bermazhab Fiqih Islam Mazhab Syafii, dapat di ambil kesimpulan bahwa Syekh Burhanuddin di perkirakan berasal pada masa kekuasaan Daulah Bani Abbasiyah. Begitu juga barang-barang peninggalan beliau di Kuntu juga berupa peninggalan mazhab Sunni, Bukan mazhab Syiah. Begitu juga mengenai adanya catatan sejarah bahwa beliau masuk melalui Sumatera Barat, juga tidak masuk akal sebab kurun abad ke 7-11 jalur niaga dari pantai barat bukanlah jalur niaga yang popular. Para pedagang mancanegara lebih umum melalui jalur panti timur melalui selat Malaka. Menurut hikayat rakyat mengatakan bahwa beliau ini bertubuh besar dan tinggih, berhidung besar dan berkuping lebar, cirri-ciri fisik belaiu ini menunjukkan bahwa beliau ini memang berasal dari tanah Arab. Seperti lazimnya pola dakwa islam sunna wal jamaaah dengan mazhab fiqih imam Syafii. Yang berkembang di Irak dan Asia Tenggara dimana sangat toleran dengan tradisi dan budaya local masyarakat Malayu. Maka pola dakwah beliau dalam mengenalkan Islam itu lebih menekankan pada perubahan pola aqidah syirik kepada aqidah tauhid. Maka sasaran dakwah utama adalah penekan pada aqidah tauhid pada masyarakat dengan cara bertahap. Sementara penerapan syariat Islam diharapkan setelah kokohnya aqidah Islamiyah masyarakat. Metode pendidikan aqidah yang ditempu adalah melalui jalur (suluk/Salik) pendidikan Thariqoh Sufiyyah yakni tariqoh Naqsabandiyyah. Dimana tempat pembinaaan aqidah ini di Kampar Kiri dikenal dengan nama “Sughau”. Sughau atau surau ini adalah sebuah madrasah tradisional sekaligus digunakan sebagai tempat peribadatan harian. Menurut hikayat masyarakat Kampar Kiri, jalur lain yang beliau gunakan untuk mengembangkan dakwah di Kampar Kiri adalah melalaui jalur perkawinan dengan penduduk pribumi kampar kiri, dimana beliau menikah dengan puteri setempat dari suku Malayu Singkuang. Dengan jalur persemendaan ini memudahkan beliau melakukan dakwah kepada masyarakat pribumi di Rantau kampar Kiri, sebab seorang simondo di dalam hokum adat Kampar kiri memiliki posisi istimewah sebagai ughang sijogha bagi Tunganai rumah, fungsi orang simondo ini dalam adat sangat penting yakni sebagai Suluo atau ambang, sangat berperan dalam pembinaan anak kemenakan ninik-mamak. Sampai sekarang masih ada keturunan beliau di negeri Kuntu, dimana keturunan beliau ini mendapat kedudukan istimewa dalam bidang agama di negeri tersebut. Menurut cerita rakyat, bahwa pada waktu beliau mengajukan lamaran kepada orang tua sigadis dari suku Melayu Singkuang. Pada awalnya lamaran beliau di tolak oleh si gadis, dimana sigadis merasa takut dengan postur tubuh beliau yang asing dengan kebanyak pemuda pribumi. Dimana badannya besar, kuping besar, mata besar, mulut lebar, hidung pun besar. Mendengar lamaran beliau ditolak oleh si gadis Melayu Singkuang itu, beliau menitip pesan pada ibu sigadis yaitu “ Badan beliau yang besar itu, digunakan untuk berjihad dijalan Allah, kuping beliau yang lebar di pergunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, Mata beliau yang besar dipergunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, sementara mulut beliau yang lebar juga digunakan untuk membaca Ayat-ayat Allah”. Setelah mendengar pesan yang di sampaikan oleh syekh Burhanuddin, yang disampaikan kepada Sigadis melalui Ibunya, maka luluhlah hati si gadis, lalu lamaran beliau duterima oleh Gadis suku Malayu Singkuang Itu, maka menikahlah beliau dengan gadis setempat dan memiliki zuriat ( keturunan yang banyak).

HIKAYAT NEGERI GUNUNG SAILAN

Hikayat Kenegerian Gunung Sahilan 1. Asal mula kenegerian Gunung Sahilan Kenegerian Gunung Sahilan merupakan suatu Kenegerian yang cukup tua dan merupakan Kenegerian yang melegenda di wilayah hukum adat Rantau Kampar Kiri. Hal ini disebabkan karena kenegerian Gunung Sahilan merupakan ibu kota darai kerajaan Gunung Sahilan yang merupakan salah satu kerajaan melayu di bumi lancang Kuning atau Riau ini. Penamaan Kenegerian Gunung Sahilan berkaitan dengan legenda lautan ( Lawik Syailan), dimana pada zaman Sriwijaya dahulu wilayah tersebut merupakan pinggiran laut dan disana terdapat tanah yang cukup tinggi ( Gunung) maka di daerah tersebut dibuat sebuah Koto ( Negeri) yang pada awalnya bernama Koto Gunung Ibul kemudian berubah menjadi Kenegerian Gunung Sailan. Menurut Para Tokoh adat dan orang tua-tua nama yang sebenarnya adalah kenegerian Gunung Sailan, bukan Gunung Sahilan sebagaimana yang dipakai dalam cacatan administratif sekarang ini. Kenegerian Gunung Sahilan pada masa berkuasanya Kerajaan/Kesultanan Gunung Sailan ( Dari abad ke 17- 1946) di Rantau Kampar Kiri merupakan pusat pemerintahan, disana terdapat Istana Darussalam di Koto Dalam yang merupakan tempat tinggal raja sekaligus istana Negara. 2. Gunung Sahilan pada masa kolonial Belanda dan Jepang Pada masa Kolonial Belanda kenegerian Gunung Sahilan/Sailan ini merupakan tempat kedudukan Controleur ( Demang ) dari Pemerintah Kolonial belanda, setelah Kerajaan Gunung Sahilan mengadakan perjanjian persekutuan melalui Plakat pendek ( Korte Verklaring ) pada tahun 1905. dimana kerajaan Gunung Sahilan digabungkan sebagai bagian dari wilayah yang dikuasai Kerajaan Belanda. Perjanjian persekutuan ini ditandatangani oleh Sultan Tengku Abdul Jalil Bin Yang dipertuan Hitam perjanjian ini kembali diperbaharui pada masa kekuasaan Tengku Abdurrahman Yang dipertuan Muda ( 22 Februari 1922). Pada masa pemerintahan Tengku Abdul Jalil yang dipertuan Besar atau bergelar Tengku Sulung dan Tengku H Abdullah ( 1930-1945 ) Kerajaan Gunung Sailan dimasuki oleh tentara pendudukan Jepang. Dan Kenegerian Gunung Sahilan merupakan tempat kedudukan pemerintahan militer Jepang untuk wilayah Rantau Kampar Kiri 3. Gunung Sahilan pada masa Kemerdekaan Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945 maka pada tahun 1946 kerajaan Gunung Sailan/Sahilan digabungkan oleh Tengku Haji Abdullah yang dipertuan Sakti ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada masa kemerdekaan kenegerian Gunung Sahilan juga mengikuti arus perkembangan zaman pada awalnya wilayah kenegerian Gunung Sahilan terdapat tujuh koto yang disebut sebagai wilayah tuju koto dihilir, dalam bahasa adat disebutkan “ Iku Koto Di pulau Angkako kapalo koto dilipatkain “ berpusat di kenegerian Gunung Sahilan atau disebut Rantau daulat yang lansung di perintah Raja dengan daerah: 1. Mentulik 2. Sijawi-Jawi/Rantau Kasih 3. Sungai pagar 4. Penghidupan 5. Simalinyang 6. Lubuk Cimpur 7. Lipatkain Pada masa kemerdekaan kenegerian Gunung Sahilan mengalami pemekaran wilayah untuk memperpendek rentang kendali pemerintahan dimana daerah-daerah yang tersebut diatas menjadi desa-desa tersendiri Pada tahun 1968 kenegerian Gunung Sahilan kembali dimekarkan menjadi desa-desa Sungai Pagar, Mentulik, Simalinyang, Penghidupan. pada tahun 1978 wilayah hukum adat kenegerian Gunung Sahilan kembali dimekarkan yaitu: 1. Desa Gunung Sahilan 2. Desa Kebun Durian Pada tahun 1998 desa Gunung Sahilan kembali dimekarkan dimana desa Subarak berdiri sebagai desa pemekaran baru dari desa Gunung Sahilan. Pada tahun 2008 desa Gunung sahilan kembali dimekarkan dimana desa Gunung Sahilan Darusalam berdiri sebagai desa baru dalam wilayah hukum adat Kenegerian Gunung Sahilan. Dari rentang sejarah diatas dapat diambil semacam kesimpulan bahwa Kenegerian Gunung Sahilan merupakan ibu dari desa-desa di wilayah kecamatan diwilayah Rantau Kampar Kiri, khususnya bagi wilayah Rantau Daulat. Ninik-Mamak Kenegerian Gunung Sahilan Di dalam wilayah hukum adat Kenegerian Gunung Sahilan, masyarakat adatnya dikelompokkan menjadi delapan suku pada awalnya, dari pimpinan atau kepala suku inilah munculnya penguasa adat atau ninik-mamak dikenegerian Gunung Sahilan. Para penguasa adat di kenegerian Gunung Sahilan akrab disapa dengan sebutan ” Ninik-Mamak Salapan Suku/ Ninik-Mamak Salapan Batu” yang terdiri dari Ninik-Mamak 4 di bawuah ( bawah) dan Ninik-Mamak 4 di daghek (darat/bukit) yaitu : 1. Dt Sinaro : Selaku pemegang kekuasaan tertinggi di dalam kenegrian di antara ninik-mamak yang lain, berasal dari suku Domo 2. Dt Marajo : Selaku Pemantau situasi di kenegerian berasal dari suku Mandailing 3. Dt. Batuah : Selaku yang menegaskan ketika ada suatu peraturan yang di tetapkan dalam Kenegerian berasal dari suku Patopang 4. Dt. Menggung : Selaku penuntut kepada Ninik Mamak jika terjadi sengketa Adat, berasal dari suku Chaniago ( suku parit nan 4 ). 5. Dt. Paduko : Bagian dari Ninik Mamak 4 di bukit yang berkedudukan di bawah Dt. Sinaro berasal dari suku Melayu Bukit 6. Dt. Paduko Sindo : Yang menguasai luhak Subarak berasal dari suku Piliang 7. Dt. Jibobagh : Ninik Mamak yang berpusako berasal dari suku Melayu Palo Koto Sebagaimana yang dijelaskan terdahulu bahwa jumlah suku serta Ninik-Mamak di Kenegrian Gunung Sahilan sebenarnya berjumlah delapan suku, akan tetapi sekitar tahun 1940 satu suku pecahan dari suku piliang, disebabkan tidak mempunyai kemenakan lagi maka dengan sendirinya salah suku yang termasuk kelompok 4 di bawuah tersebut hilang (Tiang palang nan 4). Di dalam kenegerian Gunung Sahilan, disamping ada penghulu delapan suku juga ada dua orang Datuk sebagai penguasa rantau yaitu Datuk Besar ( Bosauhg) Kalifah Van Kampar Kiri, berasal dari suku Melayu Palokoto dan Seorang lagi Orang Besar Raja yaitu Datuk Godang berasal dari suku Piliang. Kedua orang datuk ini memiliki Kebesaran mewakili Kenegerian Gunung Sahilan dalam berurusan dengan pihak luar atau negeri-negeri lainnya. Secara adat Kenegerian Gunung Sahilan terdiri dari delapan suku sebagaimana disebutkan diatas, setiap suku memiliki pemangku adat sebanyak empat orang ( baompek dalam Kampuong) dan satu penasehat yang disebut dengan orang tua (Balimo Jo Ughang tuo). Struktur pemangku adat setiap suku serupa yaitu terdiri atas : 1. Mamak Godang Kenegeri yang memiliki tugas mewakili suku/Kampungnya dalam kerapatan adat negeri 2. Mamak soko atau mamak Kampuong, adalah bertugas memimpin kemenakan dalan satu sukunya saja. 3. Dubalang ( Polisi) adalah bertugas sebagai penjaga keamanan dan ketertiban dalam suku. 4. Malin ( Alim-ulama) bertugas dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Setiap suku memiliki nama-nama/gelar pemangku adat yang berbeda, berikut nama-nama pemangku adat setiap suku di Kenegerian Gunung Sahilan : 1. Suku Domo Mamak Godang Kenegeri : Dt Sinaro Mamak Soko : Dt. Padano Dubalang : Dt. Seribu Garang Malin : Malin Pandito/ Bilal Masjid 2. Suku Melayu Darat/Bukit Mamak Godang Kenegeri : Dt. Paduko Mamak Soko : Dt. Intan Pucuk Dubalang : Dt. Kali Bandaro Malin : Jalelo Nan Tunggang 3. Suku Piliang Mamak Godang Kenegeri : Dt. Paduko Sindo Mamak Soko : Dt. Lakmano Dubalang : Tunggang Marajo Malin : Malin Panenan 4. Suku Caniago Mamak Kenegeri : Dt. Tumenggung Mamak Soko : Dt. Ajo Mangkuto Dubalang : Malin : Khadi 5. Suku Maliling Mamak Godang Kenegeri : Dt. Majo Mamak Soko : Dt. Gindo Batu Dubalang : Jalelo Nan tenggang Malin : 6. Suku Melayu Palokoto Mamak Godang Kenegeri : Dt Majo Bobae Mamak Soko : Dt. Paduko Majo Dubalang : Dt. Jalelo Garang Malin : Malin Sutan 7. Suku Pitopang Mamak Godang Kenegeri : Dt. Batua Mamak Soko : Dt. Penghulu Kayo Dubalang : Dt. Bagindo Ali Malin : Malin Bungsu 8. Suku Yang Hilang berasal dari pecahan suku Piliang Mamak Godang Kenegeri : Dt Majo Indo Mamak Soko : Dt. Paduko Marajo Dubalang : Malin : Malin Marajo

HIKAYAT KERAJAAN 8 KOTO SETINGKAI KAMPAR KIRI

HIKAYAT NEGERI DELAPAN KOTO SETINGKAI Di sepanjang sungai Setingkai Rantau Kampar Kiri, pada masa dahulu terdapat delapan Koto yang merupakan pemukiman tua. Delapan koto itu terbagi menjadi empat koto di ulak atau dihilir yakni Koto Bomban, Sungai Soghiek, sungai Rajo dan Lubuk Oguang. Empat koto di ulak ini dibawah kekuasaan Datuk Sinagho di sungai Soghiek. Sementara empat koto di mudiak atau dihulu yakni Koto Baluang, Pedadih, Koto Padang dan Siasam, empat koto di hulu ini bawah kekuasaan Datuk Mulio di Baluang. Pada masa kekuasaan kerajaan Gunung Sailan, negeri delapan Koto setingkai ini tunduk dibawah daulat Raja di Gunung Sailan. Sampai masa suatu ketika seorang Raja Gunung Sailan memudiki sungai ini untuk menengok-nengok negeri jajahannya, dalam bahasa adatnya kegiatan kunjungan raja ini disebut “ Antau Jawuo diulangi, antau dokek dikenono”. Kunjungan raja Gunung Sailan ini biasa dilakukan sekali dalam setahun. Dalam kunjungan ini raja menaiki perahu dengan para pengiring, mendatangi satu demi satu koto. Dalam kunjungan pada waktu itu juga turut serta anak laki-lakinya “ Anak Raja”, dimana siapa raja dan siapa anak raja yang berkunjung itu belum ditemukan namanya. Dalam kunjungan raja dan anak raja ini maka sampailah raja kesuatu tempat yang bernama “Kajetan” dimana tempat itu terdapat suatu lubuk yang jernih dan dalam airnya. Untuk tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, maka jatuh “Copu Rajo”. Copu adalah suatu tempat kapur untuk memakan siri kepunyaan raja, maka para dubalang pengiring sudah berusaha untuk mendapatkan copu yang jatuh tersebut, tetapi tidak seorangpun yang dapat mengambilnya. Sementara kalau dilihat dari permukaan copu berwarna kuning itu dapat dilihat dari permukaan sungai, maka anak raja atau putra mahkota itu meminta izin kepada ayah nya untuk mencoba menyelam kedalam sungai sitingkai yang jernih tetapi sangat dalam itu. Permintaan sang anak di izinkan oleh Sang Raja. Setelah di sawang/diselami berkali-kali ,copu raja itu tak juga kunjung di dapatkan. Bahkan tinggal beberapa jengkal saja dari sambaran tanggan sang putra raja, ternyata sungai setingkai ini sangat dalam. Melihat keadaan tersebut muncullah ide dari anak raja, bagaimana jika carikan sebatang kayu panjang yang bercabang dua di ujung nya. Menurut ide anak raja itu, jika nanti anak raja sudah hamper mencapai permukaan sungai dimana Copu/Pughan raja itu berada, bisa dibantu menolaknya dari atas perahu, sehingga anak raja sampai kepermukaaan sungai dan dapat menjangkau copu/pughan (dalam dielak kampar kiri). Ide dari anak raja itu disetujui oleh ayahnya, maka dicarilah sebatang gala panjang yang bercabang dua di ujung nya ( Tupang Kayu, dalam dielak local). Maka menyelamlah anak raja kedalam sungai setingkai itu, maka setelah sang anak sudah hampir sampai ke dasar sungai maka diulurkanlah kayu tupang itu di tekan kepada tubuh sang anak sehinggasampailah sang anak raja ke dasar sungai. Maka copu/pughan emas milik ayahanda Raja dengan tangkapan tangan berhasil di bawah kepermukaan sungai. Setelah sang anak sampai kepermukaaan sungai, nasib berkata lain, pughan emas dapat diperoleh kembali, akan tetapi nyawa sang anak raja menjadi timbangannya. Sang anak raja wafat. Maka gempar rantau setingkai, anak raja Gunung Sailan wafat di Batang Setingkai. Berita wafatnya sang anak raja kemudian tersebar keseluruh koto. Maka berdatanganlah seluruh anak kemenakan dan penghulunya serantau setingkai, membawah mayang-mayang dan perlengkapan untuk penyelenggaraan pemakaman sang anak raja. Berdasarkan hukum adat kampar kiri, jika raja atau anak raja Gunung Sailan wafat, maka wajib dikebumikan di tanah kerajaan yakni Negeri Gunung Sailan, tetapi jika raja atau anak raja wafat di rantau atau wilayah lain dirantau kampar kiri wajib dibawah ke tanah Gunung Sailan. Jika anak raja Wafat di Rantau andiko( wilayah 4 khalifah di hulu), jika terlalu susah untuk dibawah ke Gunung Sailan maka anak raja bisa di bawah ke negeri Padang Sawah, sebab negeri itu juga kepunyaan Raja Gunung Sailan dalam ulayat andiko di mudiak, negeri padang sawah disebut balai peranginan Raja. Dalam peristiwa wafatnya anak raja di Batang Sitingkai, maka digelarlah muyswarah adat oleh raja, dimana untuk membawa jenazah anak raja ke Gunung Sailan atau Ke Padang Sawah akan menempu waktu berhari-hari lamanya menghilir ke negeri gunung Sailan yang letaknya jawuh di hilir, sementara menurut hukum syara’ wajib segera mengebumikan sang anak raja. Maka diambillah keputusan akan mengebumikan Sang anak Raja di tempat dimana dia wafat yakni Kajetan. Maka dimulailah upacara penyelengaraan jenazah sang anak raja oleh para penghulu dan rakyat Rantau setingkai, menurut hikayat turun-temurun dari para tetua adat mengkisahkan bahwa dalam penyelengaraan jenazah ini muncul peristiwa dimana air bekas cucian jenazah sang anak raja tidak bisa di pengang oleh sembarangan orang. Dan jenazah anak raja hanya bisa di angkat atau digotong oleh suku petopang kelupak rumah dalam koto Lubuk Oguang saja, selain itu penghulu-pnghulu suku yang lain tiada kuasa untuk mengotongnya. Sehingga penyelengaraan jenazah sang anak raja ini diselenggarakan oleh Suku Petopang dari Koto Lubuk Oguang empat koto diulak. Kemudian suku petopang membuatkan makan berundak-undank dari batu paulam di ulayat kajetan. Maka selesailah seluruh upacara penguburan sang anak raja. Setelah pemakanan selesai dan do’a selamat di panjatkan. Maka Raja beserta para pengiringnya memohon pamit hendak kembali ke negeri Gunung Sailan. Kemudian Sang raja menaiki sampan dan mulai berlayar kehilir sungai, akan tetapi setelah sampai ke tengah sungai perahu tidak mau digerakkan, setelah didayung dan digalah, perahu seperti di tahan untuk meninggalkan Rantau Kajetan. Kejadian ini terjadi berulang-ulang, kejadian ini membuat sang raja menjadi heran. Kemudian sang raja naik kedaratan memuju makan sang anak dan memohon pamit hendak kembali ke negeri Gunung Sailan. Maka perahu kembali berlayar kehilir, setelah memewati beberapa deras (tikungan sungai). Maka tiba-tiba raja mendengar seruan dari arwah sang anak bahwa sang anak tidak bersedia ditinggalkan di Rantau setingkai. Seruan ini juga berisi permintaan agar sang ayah tidak meninggalkan dirinya di rantau setingkai ini. Setelah mengalami peristiwa mistik tersebut, maka sang sang raja kembali ke makam anak nya dan mengumpulkan kembali semua suku yang ada di rantau setingkai tersebut.setelah bermusyawarah mufakat dengan para pembesar rantau yang menegiringinya. Maka Sang Raja Gunung Sailan kemudian membuat Sumpah Setia, atau perjanjian antara dirinya adan Sang Anak Raja bahwa “ Mulai hari ini Rantau Setingkai bukan lagi wilayah taklukan raja Gunung Sailan, Rantau Setingkai adalah Ulayat kepunyaan dari Sang Anak yang telah wafat tersebut”. Maka dibagilah wilayah kerajaan Gunung Sailan dimana wilayah Kepunyaan Raja Gunung Sailan adalah Rantau Sibayang, sementara wilayah Rantau Setingkai adalah kepunyaan sang anak Raja. Maka jika ada keturunan Raja Gunung Sailan yang memasuki kembali rantau setingkai mulai hari itu ( masuk dengan maksud menguasai/menaklukkan). Maka sangsinya dari yang maha kuasa adalah “ Keturunan Raja Gunung Sailan itu akan mati dengan penyakit perut”. Demikian isi persumpahan raja Gunung Sailan dihadapan makam Anak Raja, dengan saksinya seluruh penghulu suku serantau setingkai. Maka semenjak hari itu rantau setingkai memiliki Raja sendiri yakni Daulat Mati Sang Anak Raja. Untuk memengang kuasa daulat mati sang anak raja Gunung Sailan di Rantau Setingkai, maka Kuasa Raja/ Pisoko Rajo diberikan kepada Penghulu Suku Petopang kalupak Rumah Dalam Koto Lubuk Oguang, sebagai Raja Adat Rantau delapan Koto Setingkai, dengan gelar turun-temurun Datuk Ulaksamano.

HIKAYAT DATUK NYATO DIRAJO...DIPLOMAT ULUNG KAMPAR KIRI

HIKAYAT KECERDIKAN DATUK NYATO DIRAJO

Datuk Nyato Dirajo adalah pucuk rantau Negeri Domo Kekhalifaan Kuntu, pada masa kurun abad ke 16 masehi pucuk Rantau Negeri Domo bernama Datuk Indomo. Pada masa ini Datuk-datuk Serantau Kampar Kiri sudah bersepakat untuk berdiri sendiri dalam wadah suatu kerajaan. Setelah kesepakatan di buat maka para datuk bersepakat untuk memintah seorang anak Raja Asli dari Raja Pagaruyuang untuk dirajakan di Rantau Kampar Kiri.
Maka Datuk Sanjayo dan Datuk Singo Rajo Babandiang, Penjaga Batas Rantau Kampar Kiri, kemudian menjadi delegasi dari Luak Subayang untuk menghadap ke Istana raja Pagaruyuang. Setibah di istana raja maka disampaikanlah maksud dan tujuan kedatangan kedua Bangsawan Kampar Kiri ini, yaitu untuk memintah seorang anak raja yang asli keturunan Daulat Raja Pagaruyuang, dimana anak tersebut akan menjadi “ Bijo ” atau cikal Raja bagi kerajaan Gunung Sailan.
Setelah mendengar maksud kedatangan delegasi Pembesar Rantau Kampar Kiri yang di kepalai oleh Maka Datuk Sanjayo dan Datuk Singo, Penjaga Batas Rantau Kampar Kiri . Maka Raja Pagaruyuang kemudian mengiyakan dan merestui keinginan Datuk-datuk dari Kampar Kiri tersebut. Adapun mengenai permintaan untuk membawah seorang anak raja yang asli (laki-Laki) ke Rantau Kampar Kiri, Raja Pagaruyuang waktu itu juga memberikan restunya, silakan ambil dan bawah ke Kampar Kiri.
Kemudian Raja Pagaruyuang menunjuk kepada halaman istana Pagaruyuang waktu itu dan berkata “ di sana ada sekumpulan anak-anak raja Pagaruyuang” ambillah satu dan bawahla ke Negeri Tuan-tuan. Menurut hikayat para tetua adat, pada waktu itu di halaman istana ada sekitar 40 orang anak laki-laki yang sedang bermain-main, maka Raja Pagaruyuang mempersilakan untuk mencari dan memilih sendiri anak mana yang disukai oleh para Datuk untuk dijadikan Raja di Kampar Kiri. Melihat kesempatan ini maka Datuk Singo ketua delegasi Masyaraakat Kampar Kiri kemudian memilih seorang anak Raja yang paling bagus dan elok raut mukanya. Anak tersebut diambil lalu dibawah ke Rantau Kampar Kiri, lalu di duduk kan diatas tahta di Negeri Gunung Sailan. Sebelum di Nobatkan menjadi Raja, maka anak raja yang dijemput tadi dilakukan upacara sembah raja. Dimana seluruh Datuk pembesar rantau menyembah anak raja tersebut, sebagai wujud Baiat mereka atas kepemimpinan Raja baru. Akan tetapi setelah dilakukan upacara sembah Raja, Sang Anak Bijo Raja tersebut tiba-tiba sakit, tidak beberapa lama kemudian sang anak menginggal dunia. Kejadian ini membuat gempar Rakyat serantau Kampar Kiri, dimana raja yang dijemput kepagaruyuang tiba-tiba wafat tak tahan sembah.
Maka bermusyarahlah kembali para datuk Pembesar Rantau dimana dalam Musyawarah itu didapat kata sepakat bahwa jika anak Raja tersebut wafat tak tahan sembah, berarti anak tersebut bukan anak raja yang asli dari kerajaan Pagaruyuang. Maka diutuslah delegasi kedua yang dikepalai oleh  Datuk Singo Rajo Babandiang kembali menghadap Raja Daulat Pagaruyung, dengan maksud yang sama yakni memintah anak raja yang asli untuk dijadikan raja di Gunung Sailan. Setibah di istana Raja Pagaruyuang jawaban Raja tetap sama yakni silakan dipilih dari sekumpulan anak raja Pagaruyuang yang ada. Kemudian Datuk Singo, kembali memilih seorang anak yang menurut hemat dan pertimbangan beliau ini adalah anak raja yang asli. Setelah dapat maka dibawahlah kerantau Kampar Kiri, sebelum sampai di Gunung Sailan disuatu tempat maka berhentilah Datuk Singo Rajo Babandiang dan pengiring nya dan kemudian menghampiran sang Raja Muda Pagaruyuang tersebut, kemudian bertanya apakah tuan muda adalah anak raja Pagaruyuang..? maka sang anak tersebut mengangguk. Lalu Datuk Singo Rajo babandiang kembali memastikan agar kejadian pertama tidak terulang kembali, apakah tuan muda, benar-benar anak Raja asli/kontan raja Pagaruyuang. Mendengar pertanyaan tersebut maka tuan muda dari Pagaruyuang ini kemudian menggeleng. Mendengar jawaban sang Tuan muda dari Pagaruyuang maka bingunglah Datuk Singo Rajo babandiang, maka tuan Muda ini diberi gelar “ Rajo Ongguak –Geleng”. Untuk memastikan bahwa anak ini bisa untuk dijadikan Raja di Kampar Kiri, maka diadakanlah kembali upacara “sembah Raja” jika benar dia anak Raja asli Pagaruyung asli pasti tahan sembah, kata sang Datuk. Tempat Upacara penyembahan raja tersebut disebut " Bukit Panyombahan" letaknya di Hulu Sibayang.
Setelah upacara sembah raja, tidak berapa lama sang tuan muda menderita sakit perut, tidak lama kemudian tuan Muda dari Pagaruyuang ini juga mennggal duni. Maka bertambah bingunglah para pembesar Rantau Kampar Kiri, dua kali menjemput Raja, kedua-duanya berakhir dengan kegagalan. Maka dengan tekad bulan, sekali layar terkembang, pantang surut kebelakang, maka diadakan musyawarah kembali dan dibentuklah delegasi ketiga, untuk memimpin delegasi ketiga ini kemudian diserahkan kepada Datuk Indomo, yakni pucuk Rantau Negeri Domo, Kekhalifaan Kuntu. Maka berangkatlah sang Datuk pembesar Rantau Kampar Kiri ini kembali ke Istana Raja Pagaruyung dengan tekad akan mendapatkan seorang anak Raja yang asli keturunan Raja Pagaruyuang. Setelah sampai di Pagaruyuang, sang datuk Indomo tidak lansung ke istana Raja, tetapi sang datuk pergi kepasar dan membeli setandan pisang. Lalu dipikullah pisang tersebut ke istana Raja Pagaruyung, setelah tiba di halaman istana, maka dipanggillah semua anak-anak yang bermain dihalaman istana dan diberikan pisang ( diumbuok dengan pisang). Anak-anak kemudian ramai berebut pisang sang datuk, sambil membagikan pisang sang datuk mengajukan pertanyaan kepada anak-anak tersebut, maka anak raja Pagaruyuang yang sebenarnya.
Maka anak-anak tersebut dengan polosnya menunjuk kepada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di pingir lahaman istana. Anak tersebut tidak ikut berebut pisang sang datuk. Maka Datuk Indomo memperhatikan gaya anak-anak istana ini memakan pisang, ada yang lansung dibuka dan dibuang kulitnya. Kemudian buah pisang lansung dimakan oleh anak-anak tersebut, beragam cara memakan pisng anak-anak istana ini. Kemudian sang datuk mendatangi anak yang duduk dipinggir halaman dan memperhatikan sang anak ini. Secara lahiriah sang anak terkesan biasa-biasa saja , bahkan dilihat dari kulit sang anak berwarna agak hitam dan rupa yang tidak terlalu tampan. Secara lahiriah tentu sang Datuk tidak begitu yakin jika sang anak ini Tuan Muda yang sebenarnya dari kerajaan Pagaruyuang. Maka sang Datuk Indomo kemudian mempersembahkan buah pisang yang dibawah nya kepada tuan muda Pagaruyuang ini, pemberian sang datuk diterima oleh sianak. Kemudian sang tuan muda ini membuka kulit pisang selembar demi selembar dan menyisahkan bahagian bawahnya, karena bagian bawah itu adalah tempat untuk memakan pisang secara berlahan. Cara ini disebut dengan tata cara santap istana yakni disebut “ Kubak Ajo”.
Melihat tatakrama sang tuan muda Pagaruyuang ini maka yakinlah sang Datuk Kampar Kiri bahwa memang Tuan Bujang hitam inilah anak Raja yang asli dari Dinasti Raja Pagaruyuang. Kemudian sang Datuk Kampar Kiri ini , kembali menemui Raja Pagaruyung dengan tujuang yang sama dengan dua delegasi terdahulu yakni untuk meminta seorang anak raja yang asli keturunan lansung dari Raja Pagaruyuang untuk dirajakan di Kampar kiri. Sebagaian mana jawaban terdahulu seperti itulah jawaban raja Pagaruyuang yakni mempersilahkan Datuk Indomo untuk memilih seorang anak , dari halaman istana Pagaruyung.
Dengan diberikan izin tersebut, maka dengan cekatan Datuk Indomo bergerak menuju tuan Muda Hitam tersebut mengapit tangannya dan membawah Sianak kehadapan Raja Pagaruyuang, sambil berkata bahwa dia akan membawah anak ini ke Gunung Sailan untuk dijadikan Raja di kampar Kiri. Melihat kejadian ini maka terkejutlah sang Raja Pagaruyuang, melihat anak laki-laki satu satunya sudah berada dalam gengaman tangan datuk Andomo dari kampar Kiri. Malang tak dapat ditolak, munjur tak dapat di raih, kata izin telah keluar dari mulut tuanku Raja, tentu pantang untuk menjilat ludah yang telah terlajur dibuang.
Maka Sang Raja mengiyakan permintaan Datuk Indomo dari Kampar Kiri, Kemudian setelah semua perlengkapan sudah siap di depan istana pagaruyung maka Datuk Indomo kemudian akan turun dari istana Pagaruyuang membawa sang Tuan Muda untuk dijadikan Raja di Rantau. Melihat kejadian tersebut maka terseraklah tagis di tengah istana, dimana ibu sang Raja Bujang menagis meraung menyaksikan putra tunggalnya di jemput terbawah oleh Datuk-datuk dari kampar kiri. Melihat kejadian tersebut bertambah yakinlah Sang datuk Indomo bahwa yang terbawa adalah Anak Raja Asli Pagaruyuang.
Dengan senyum kemenangan Sang Datuk Indomo kemudian meninggalkan Istana Pagaruyuang kembali Ke Gunung Sailan. Setibah di Gunung Sailan Kampar Kiri, maka segeralah diadakan acara nobat Raja melalui acara sembah Raja dan pembacaan Sumpah setia di Muarabio tepatnya di pulau Angkako. Maka jadilah Tuan Bujang Pagaruyuang sebagai Raja pertama kerajaan Gunung Sailan Kampar Kiri. Kecerdikan Datuk Andomo dalam bersiyasat untuk mendapatkan anak raja yang asli dari Pagaruyung ini menjadi legenda turun temurun di Rantau Kampar Kiri. Sehingga Datuk Indomo pucuk Rantau Negeri Domo memperoleh kehormatan sebagai orang Besar Raja Gunung Sailan dengan gelar Datuk Nyato Dirajo.

HIKAYAT BERDIRINYA KERAJAAN GUNUNG SAILAN

HIKAYAT BERDIRINYA KERAJAAN GUNUNG SAILAN Kampar Kiri disebut dengan wilayah undang yaitu wilayah yang menerapkan sistem hukum diyat, dalam ungkapan disebut “ Abi undang sobab dek karib, abi cupak bakalera’an”, Wilayah undang Kampar Kiri terbagi dua bagian Pertama: wilayah kerajaan Tigo Selo, Kedua kerajaan Delapan Koto Sitingkai. Negeri Kampar Kiri dinamakan Negeri Tigo Selo,yang kenegeriannya adalah Ludai, Ujung Bukit, Gunung Sahilan, Lipatkain, Kuntu dan Batu Songgan, pusat pemerintahan kerajaan Tigo Selo adalah Gunung Sahilan. Kenegerian/Khalifah Gunung Sailan wilayahnya adalah Gunung Sahilan, Lipatkain, Lubuk Cimpur, Penghidupan, Simalinyang, Sungai Pagar, Kebun Durian, Rantau Kasih dan Mentulik. Kenegerian / khalifah Kuntu wilayahnya adalah Kuntu, Domo,dan Padang Sawah. Kenegerian / khalifah Ujung Bukit wilayahnya adalah Pulau Pencong (ujungbukit), Tanjung Belit,dan Pasirr Amo (Gema). Kenegerian / Khalifah Ludai wilayahnya adalah Ludai, Kotolamo dan Pangkalan Kapas Kenegerian / Khalifah Batu Sanggan wilayahnya adalah Batu Sanggan,Gajah Batalut,Meririang, Aur Kuning, Pangkalan Serai dan Terusan. Negeri Tigo Selo memiliki raja yang duduk dipusat pemerintahan dan memiliki lima khalifah (Khalifah Gunung Sahilan, Khalifah Kuntu, Khalifah Ujung Bukit, Khalifah Ludai, Khalifah Batu Songgan) yang menjadi perpanjangan tangan raja dalam memerintah kerajaan. Datuk-datuk yang masuk dalam jajaran tigo selo berkedudukan di istana Gunung Sahilan bersama raja adalah Datuk bosoe suku Melayu, Datuk Godang suku Piliang dan Datuk Sinaro suku Domo. Datuk bosae (dari suku Melayu sejati Gunung Sahilan ) adalah pucuk negeri kamparkiri sedangkan Datuk Godang adalah Pucuk Rantau Gunung Sahilan merangkap raja tigo selo (dari suku Piliang Gunung Sahilan). Raja Gunung Sahilan memiliki kain bersangkutan tali berentangan (berhubungan ) dengan Datuk Majo Kayo pucuk suku Piliang dikenegerian Airtiris. ( sumber : Diskusi dunia maya dengan Ocu Indra Pratama). Asal usul berdirinya Kerajaan Gunung Sailan Kampar kiri, bisa di lihat memalui sebuah pepatah lama " Mulo duduok kan badighi, batang bingin ditogha padang, mula adat kan dagihi di Pariangan Padang Panjang, anak si Putri Jailan maisok Bungo Linsabau, barajo ka Gunuang Sailan, Batuo ka Gunuang Ijau " . Ini untuk menjelaskan kisah lama yang sangat di tutup rapat di Gunuang Sailan, lokasi bernama Gunung Ijau ini berada di pedalaman rimbo Gunuang Sago. Gunuang Ijau akan membuka sedikit tabir lama. Sumpah sotie “ Mobio” itu di lakukan Dt. Bosae, Dt. Godang, Datuk Sinagho, 4 Khalifah dimudiak, dan NiniakMamak kepada Raja Mangiang untuk menyelesaikan sengketa adat di masa itu. Apa sengketanya….. ? Ini tidak boleh disebut lagi karena sudah di sumpah masa itu. Kualat kita jika menyebut masalah yang sudah di selesaikan ninik-moyang di masa lalu. Hanya saja dalam petata adat di Tanah kampar sedikit digambarkan tentang terbaginya tanah kampar dalam dua mazhab adat yang berbeda, bunyi petata lama itu “ Undang-Undang Di Kampar Kiri, Undang Sejati di Kampar Kanan, Talago Undang di Motakui, Baulak Undang Ka Pagaruyung”. Yakni pertikaian antara sistem adat Koto Piliang dan sistem adat Bodi Chaniago. Sehingga hari ini Rantau Kampar Kiri disebut wilayah Undang yang mamakai mazhab adat Koto Piliang yang Hirarkis “ Antau dituwik jo Undang, Naghoghi dihuni jo pisoko, kampung dilambak jo Limbago, Antau Saparentah Rajo, Luak Saparenta Penghulu, Naghoghi saparentah Ughang Godang, Kampuang Saparentah Ughang Tuo, Togak nan tiado tasundak, malenggang nan tiado tapompe, Biang Tombuok, Gontiang Putui, Hukum tertinggi di Tangan Rajo, Rajo lalu Antau Salosai, nan kusuik salosai nan Kowuo Jonie. siapa raja pertama Kerajaan Gunung Sailan..?..ada dua versi dalam catatan para tetuo negeri yakni pertama Datuk Bujang Sati Sutan Pangubayang, kedua disebut Raja Mangiang. Kita tidak perlu bingung tentang Raja Bujang / Raja Mangiang kedua – duanya sama dan merujuk kepada satu orang yang sama. Ini kisah lama. Namanya lahirnya Raja Mangiang kemudian ketika sudah khitan di panggil Angku Tuan Bujang / Yang Dipertuan Bujang karena Bapaknya adalah Raja Adat di Buo yang termahsyur. 1. Sengketa Adat di Abad ke 16 masehi di Luak Subayang, saat itu Luak Subayang masih berada dalam kepemimpinan sendiri di bawah Dt. Bosae yang berdatuk ke Dt. Raja Dibalai MuaraTakus 2. Peristiwa pengiriman delegasi masyarakat LuakSubayang di bawah pimpinan Dt. Besar 3. Pengiriman Raja Mangiang dari Pagaruyung disertai sedikit " kisah" di Pagaruyung 4. Sumpah Sati Mo Bio 5. Penataan ulang adat Kampar Kiri dari mazhab adat Bodhi Caniago ke Adat Koto Piliang. Undang jati, cupak, gantang. Dan lain-lain yang di bawa Raja Mangiang dari Pagaruyung. gelar Raja Gunung Sailan ada dua yakni “Yang Dipertuan Besar” dan “Yang Dipertuan Sati” juga sebuah jabatan yang jarang yang bisa memberikan keterangan tentangnya. Alkisah, setelah kematian suaminya di johor, encik pong dilarikan ke Pagaruyung tepatnyake Istana Raja Adat di Buo. Saat itu berkuasa seorang raja Adat yang sudah tua. Setelah masa idah, kemudian Raja Adat menikahi encik Pong. Itulah sebabnya kenapa kemudian hari Raja Kecil di panggil juga dengan Tuan Bujang dari Buo karena Bapak Tirinya adalah Raja Adat. Sedangkan saat itu Raja Adat sudah punya isteri tua dan beranak Raja Mangiang juga di panggil Tuan Bujang. Karena tidak ingin di madu Ibu Raja Mangiang lari kerimba Gunuang Sago tepatnya kesebuah tempat yang di sebut Gunung Ijau. Perkara ini di selesaikan dengan mengirim Raja Mangiang ke Gunuang Sailan dan mengirim Raja Kocik ke Siak. Itu sebabnya antara Siak dan Gunuang Sailan sangat bertali erat. ( Dikusi dunia maya dengan Dunsanak Ricky Sahrul, Keturunan Raja Adat di Buo).

Minggu, 07 Juni 2015

ISTANA DARUSSALAM KERAJAAN GUNUNG SAILAN

LAMBANG KABUPATEN GUNUNG SAILAN DARUSSALAM


KABUPATEN GUNUNG SAILAN DARUSSALAM


Profil Calon Kabupaten
GUNUNG SAILAN DARUSSALAM
Pusat Pemerintahan di kota Lipatkain Kecamatan Kampar Kiri
Luas wilayah  4.635.62    Km2 (40 %  dari luas Kabupaten Kampar)
(1). Kec. Kampar Kiri
(2). Kec Kampar Kiri Hulu
(3). Kec Kampar Kiri Hilir
(4). Kec Kampar Kiri Tengah
(5). Kec gunung Sahilan
(6). Kec Siak hulu
(7). Kec Perhentian Raja.
Dengan 96 Desa dan Kelurahan (Tahun 2012).
Batas wilayah :

SEKILAS INFORMASI TENTANG " TAPAK SEJARAH GUNUNG IBUL"...RANTAU KAMPAR KIRI

Dalam buku Sejarah Riau yang disusun Wan Galib dkk dalam BAB VI yakni Riau Menghadapi Kolonialisme Belanda, tepat pada halaman 355-357 disebutkan tentang Kerajaan Kamparkiri. Berdirinya kerajaan ini tidak diketahui secara pasti namun salah satu peninggalannya adalah suatu tempat disebut benteng yang menjadi peninggalan bersejarah. Masyarakat tempatan menyebut ini sebagai peninggalan sejarah sebelum Islam. Artinya, kerajaan ini sudah berdiri sebelum agama Islam masuk. Namun kemungkinan besar perkembangannya berkemungkinan besar baru mencuat pada awal abad 19 Masehi. Kerajaan Kampar Kiri ini berpusat di Gunungsahilan yakni kira-kira 5 Km dari Kampung Kebun Durian, Kampar Kiri, Kabupaten Kampar. Wilayah kerajaan ini meliputi dari Muara Linggi (Langgam, kini masuk Kabupaten Pelalawan) di hilir sampai ke Pangkalan Dua dihulu (diperkirakan daerah Pangkalan Indarung di Sumatera Barat).Perkembangan kerajaan ini diperkirakan tergolong lambat sebab dalam beberapa kali keturunan raja-raja yang memerintah tidak terdapat perubahan-perubahan yang berarti. Pada 1905, Tengku Sultan Abdul Jalil bin Yang Dipertuan Hitam yang menduduki tahta kerajaan, mengirim utusan ke Bengkalis untuk menyerahkan dan mengaku tunduk kepada pemerintahan Hindia Belanda dengan tujuan negerinya akan aman dan makmur. Maka 27 Februari 1905 disepakati sebuah perjanjian antara kerajaan Kamparkiri dengan Hindia Belanda dan setelah itu, kerajaan Kamparkiri merupakan wakil pemerintahan Hindia Belanda. Kerajaan Kamparkiri langsung diwakili seorang raja dengan gelar Yang Dipertuan Besar van Gunung Sahilan en Datuk van het Landschap. Pada 29 Mei 1907 kembali dibuat perjanjian dengan Hindia Belanda yang ditandatangani Yang Dipertuan Abdurrahman sebagai pengganti Sultan Abdul Jalil. Maka dengan perjanjian tersebut, secara administrasi kekuasaan Kamparkiri diserahkan kepada pemerintah Hindia Belanda. Belanda menempatkan seorang controleur sebagai kepala dari pangreh praja di sana dan menurut perjanjian itu bekas kerajaan Kampar Kiri termasuk dalam Zelbestuur. Kerajaan ini dibagi atas lima kekhlifahan dan kedudukan khalifah tidak terpusat pada pusat pemerintahan tetapi berkedudukan di daerahnya masing-masing. Lima kekhalifahan itu antara lain; Datuk Khalifah Kamparkiri berkedudukan di Gunungsahilan, Datuk Bendahara Khalifah Kuntu berkedudukan di Kuntu, Datuk Bendahara Khalifah Ujung Bukit berkedudukan di Ujung Bukit, Datuk Gedang Khlaifah Batu Sanggam berkedudukan di Batu Sanggam, serta Datuk Marajo Besar Khalifah Ludai berkedudukan di Ludai. Kerajaan Kamparkiri kemudian disebut dengan Kerajaan Gunungsahilan yang semula meliputi 25 negeri, berkembang menjadi 30 negeri. Pada 1930 Maha Mulia Tengku Sulung yang bergelar Tengku Yang Dipertuan Besar dan Yang Maha Mulia Tengku Haji Abdullah bergelar Tengku Yang Dipertuan Sakti ditabalkan sebagai raja. Perhelatan besar dilaksanakan dengan memotong beberapa ekor kerbau tiap-tiap orang dari khalifah yang berlima. Pembangunan di masa pendudukan Belanda arah pembangunan negeri hanya untuk kepentingan Belanda seperti pembangunan kantor pos, kantor kontreleur dan sekolah. Sedangkan istana sultan dibangun sekedar mengambil hati sultan agar kerajaan tersebut tetap setia pada Hindia Belanda. Salah seorang keturunan Tengku Sulung yakni Tengku Arifin bin Tengku Sulung menjelaskan, hingga hari ini masih ada tapak-tapak sejarah yang terabaikan seperti kandang kuda, sekolah perpolof school, asrama polisi, pesanggrahan, penjara, kantor markoni/berita dan kantor raja/merah. Bernama Gunungibul Pada mulanya, Gunung Sahilan bernama Gunungibul. Letak perkampungannya, berjarak satu kilometer dari kampung sekarang ini. Di kawasan Gunungibul itu, masih terdapat beberapa bekas situs sejarah yang juga tidak terawat dan nyaris hilang sejak perkebunan kelapa sawit menjamur di sepanjang Sungai Kampar. Di masa Gunungibul, atau Kerajaan Gunungsahilan Jilid I, masyarakat masih beragama Budha, dibuktikan dengan bekas-bekas kandang babi dan tapak-tapak benteng. Beberapa keturuna raja terakhir, Tengku Yang Dipertuan (TYD) atau lebih sering disebut Tengku Sulung (1930-1941) seperti Tengku Rahmad Ali dan Utama Warman, kerajaan Gunungsahilan Jilid I diawali dengan Kerajaan Gunungibul yang merupakan kerajaan kecil. Menurut penuturan nenek moyang dan orangtua mereka, Kerajaan Gunungibul ada setelah runtuhnya kerajaan Sriwijaya. Pembesar-pembesar istana berpencar satu persatu dan mulai mendirikan kerajaan-kerajaan kecil, salah satunya di kawasan Gunungibul. “Cerita soal Kerajaan Gunungibul memang tidak memiliki bukti kuat seperti kerajaan Gunungsahilan sekarang. Sebab kami mendapatkannya dari cerita secara turun-temurun tapi kami percaya karena memang bukti-buktinya masih ada,” ungkap Tengku Rahmad Ali yang tinggal di sisi kanan, luar pagar komplek istana. Diakui keduanya, cerita tentang Gunungibul hanya sedikit sekali sehingga mereka terus berupaya untuk mencari lebih dalam lagi untuk bisa disambungkan dengan Kerajaan Gunung Sahilan. Baik Tengku Rahmad Ali, Utama Warman dan Tengku Arifin bin Tengku Sulung memulai kisah awal kerajaan Gunungsahilan karena terjadinya keributan antar orang sekampung. Tidak jelas sebab musabab terjadinya keributan itu, yang pasti keributan mereda setelah tetua adat dan para khalifah bersepakat untuk mencari seseorang untuk di-raja-kan di Gunungsahilan. Pilihan mereka jatuh kepada Kerajaan Pagaruyung yang saat itu sedang dalam menuai masa keemasannya. Namun perlu diingat, kata mereka, bahwa sebelum kerajaan jilid II terbentuk, masyarakatnya sudah heterogen atau gabungan dari beberapa pendatang, baik dari Johor Baharu (Malaysia) dan orang-orang sekitar negeri seperti Riau Pesisir, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan sebagainya. Penduduk asli kampung bersuku domo, sedang enam suku lainnya merupakan pendatang yang beranak-pinak di sana. Meski harus diakui, masih banyak versi lain mengenai sejarah kerajaan tersebut dengan perbedaan-perbedaan yang tidak terlalu jauh. “Seperti kami dari suku Melayu Darat dan Melayu Kepala Koto adalah pendatang dari Johor, begitu juga suku lainnya, kecuali domo,’’ ujarnya. Ditambahkan Tengku Arifin, mengapa pilihan jatuh ke Pagaruyung karena saat itu, kerajaan itu terlihat cukup menerapkan sistem pemerintahan yang demokrasi. Karenanya, diutuslah tetua atau bangsawan Gunungsahilan untuk meminta anak raja dan di-raja-kan di Gunungsahilan. Anak raja pertama dan kedua meninggal saat disembah seluruh masyarakat. Keadaan negeri menjadi tidak menentu dan diutuslah seorang untuk datang ke Pagaruyung mencari siapa yang pantas dirajakan di Negeri Gunungsahilan. “Saat itu, utusan negeri mendapatkan kabar dan melihat langsung bahwa anak raja yang bisa di-raja-kan di sini yang berkulit hitam dan kurang molek rupanya. Setelah mendapat izin, anak itu dibawa ke Gunungsahilan dan di-raja-kan. Karena masih kecil anak itu tidak datang sendiri tetapi membawa pembesar istana lainnya ke negeri ini. Saat itu pula mulailah disusun, peraturan pemerintahan, termasuk adat-istiadat raja-raja jadilah sekarang garis keturunan di negeri ini berdasarkan ibu atau matrilineal,” tutur Tengku Arifin panjang lebar. Sejak saat itu, raja-raja yang diangkat bukan anak kandung raja melainkan keponakannya. Berturut-turut raja yang pernah didaulat di Kerajaan Gunungsahilan antara lain Raja I (1700-1740) Tengku Yang Dipertuan (TYD) Bujang Sati, Raja II (1740-1780) TYD Elok, Raja III (1780-1810) TYD Muda, Raja IV (1810-1850) TYD Hitam. Khusus raja keempat tidak didaulat seperti raja sebelumnya sebab TYD Hitam bukan anak kemenakan raja Muda, melainkan anak kandungnya. Namun TYD Hitam sebagai pengemban amanah memimpin selama kurang lebih 40 tahun. Raja V (1850-1880) TYD Abdul Jalil, Raja VI (1880-1905) TYD Daulat, Raja VII (1905-1930) Tengku Abdurrahman dan Raja VIII atau terakhir TYD Sulung atau Tengku Sulung (1930-1941). “Kerajaan ini tidak pernah berperang dengan Belanda dan kami tidak merasakan bagaimana kejamnya akibat penjajahan itu. Pihak kerajaan dan Belanda bahkan membuat kesepakatan untuk tidak saling mengganggu. Hanya saja, di masa pendudukan Jepang kerajaan ini dibekukan dan diganti dengan distrik,” kata mantan guru tersebut.

SEJARAH KEDATUAN GUNUNG IBUL HINGGA LAHIR KERAJAAN GUNUNG SAILAN

SEJARAH KEDATUAN GUNUNG IBUL HINGGA LAHIR KERAJAAN GUNUNG SAILAN OLEH : ZALDI ISMET, S.Sos KERANGKA PENELITIAN PEKANBARU 2014 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Istilah sejarah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata syajara dan syajarah. Syajara berarti terjadi dan syajarah berarti pohon yang kemudian diartikan silsilah. Arti harfiah syajarah melahirkan sejarah dalam pengertian sempit, yaitu silsilah, asal-usul atau riwayat. Pada awal perkembangan pengetahuan, sejarah dalam pengertian sempit itulah yang dipahami secara umum oleh masyarakat. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pengertian sejarah pun mengalami perkembangan. Hasil sejarah tersebut, meninggalkan suatu bentuk peninggalan budaya bangsa. Peninggalan tersebut berupa tulisan, simbol, ornamen, bangunan-bangunan bersejarah dan sebagainya, sehingga peninggalan tersebut dapat dinikmati dan dikenal secara nyata nilai budayanya oleh generasi-generasi penerus bangsa. Sejarah merupakan bagian dari ilmu pengetahuan. Sebagai ilmu pengetahuan maka sejarah harus dapat dipercaya kebenarannya.Oleh karena itu didalam menggali berbagai peristiwa sejarah yang pernah terjadi harus berdasarkan pada sumber-sumber yang ada. Untuk menggali sumber-sumber sejarah harus berdasarkan pada metode penelitian sejarah. Metode penelitian sejarah adalah langkah-langkah sistematis didalam mengkaji berbagai peristiwa sejarah melalui pencarian informasi sumber sejarah, mengumpulkan sumber sejarah, memeriksa kebenaran sumber sejarah, menafsirkan sumber sejarah dan menuliskan kembali peristiwa sejarah. Menurut Louis Gottschalk metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis terhadap rekaman atau peninggalan masa lampau. Kemudian data-data yang telah teruji dan dianalisis disusun kembali menjadi sebuah kisah sejarah. Sejarah merupakan bagian dari ilmu pengetahuan serta memiliki obyek yang jelas yaitu peristiwa yang pernah terjadi pada masa lampau. Selain itu sejarah juga memiliki metode penelitian tersendiri yaitu metode historis . Metode historis adalah proses penelahaan secara ilmiah terhadap berbagai peristiwa dari perspektif sejarah. Yang dimaksud dengan perspektif adalah menganalisis peristiwa yang pernah terjadi pada masa lampau untuk kepentingan masa sekarang dan masa yang akan datang. Untuk menganalisis berbagai masalah pada umumnya dicari generalisasi sehingga dapat memahami memahami kenyataan-kenyataan pada masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Dengan malalui metode historis maka dapat dilakukan penafsiran terhadap gejala, peristiwa maupun gagasan yang pernah muncul pada masa lalu. Agar ilmu sejarah dapat dipercaya kebenarannya, maka sejarah memiliki kaidah atau disiplin ilmiah yaitu metodologi penelitian sejarah. Metodologi adalah langkah-langkah atau tahapan-tahapan yang harus dilaksanakan dalam penelitian sejarah. Metodologi penelitian sejarah merupakan suatu proses untuk mengumpulkan, menilai dan menafsirkan sumber-sumber sejarah yang telah ditemukan. Menurut Nugroho Notosusanto yang dimaksud metode penelitian sejarah adalah : Prosedur dari sejarah untuk melukiskan kisah masa lampau itu ternyata terjadi (1) mencari jejak-jejak masa lampau (2) meneliti jejak-jejak secara kritis (3)berdasarkan informasi yang diberikan oleh jejak-jejak itu berusaha membayangkan bagaimana imajinasi ilmiah (Nugroho Notosusanto 1971:72). Wilayah Rantau Kampar Kiri, mulai dikenal dalam Catatan Sejarah dimulai dari awal adab mula sejarah (Proto Sejarah) Nusantara yakni abad ke 1-5 M. catatan catatan sejarah yang membahas tentang wilayah ini sangat berkaitan dengan aktivitas perdagangan. Aktivitas perdagangan ini muncul karena wilayah ini terletak di aliran sungai-sungai besar yang bermuara ke laut yakni selat Malaka, dimana selat malaka merupakan Bandar transito perdagangan antara berbagai macam bangsa-bangsa dunia semenjak zaman dahulu sampai hari ini. Aktivitas perdagangan diselat Malaka juga berkaitan dengan jalur perdangan lainnya yakni sungai-sungai besar yang menghubungkan daerah pantai dengan daerah pedalaman pulau sumatera (Pulau Percha/Poco) atau juga dikenal dengan nama pulau emas (Swarnabumi). Pulau Sumatera merupakan Pulau besar dinusantara yang banyak memiliki sumber daya alam yang dibutuhkan oleh berbagai macam bangsa dunia,diantaranya Emas, Timah, Lada/Merica, Pinang, Damar, Rotan, Gaharu, Gading Gajah dan rempah-rempah lainnya. Jalur transportasi utama untuk membawa barang dangan ini ke pasaran dunia adalah jalur sungai, salah satu jalur sungai ini adalah sungai Kampar, dahulunya bernama laut Ombun atau Sungai Ombun. Sungai Kampar telah mengalami perubahan selama ribuan tahun. Perubahan ini juga menyebabkan perubahan terhadap nama Sungai Kampar itu sendiri, yakni Laut Ombun berubah menjadi Sungai Ombun dan berubah lagi menjadi Sungai Kampar. Sungai Kampar atau Batang Kampar merupakan sebuah sungai di Indonesia, berhulu di Bukit Barisan sekitar Sumatera Barat dan bermuara di pesisir timur Pulau Sumatera Riau. Sungai ini merupakan pertemuan dua buah sungai yang hampir sama besar, yang disebut dengan Kampar Kanan dan Kampar Kiri. Pertemuan ini berada pada kawasan Langgam (Kabupaten Pelalawan), dan setelah pertemuan tersebut sungai ini disebut dengan Sungai Kampar sampai ke muaranya di Selat Malaka. Aliran Sungai Kampar Kanan menelusuri Lima Puluh Kota dan Kampar, sedangkan aliran Sungai Kampar Kiri melewati Sijunjung, Kuantan Singingi dan Kampar, kemudian kedua aliran sungai tersebut berjumpa di Langgam Pelalawan. Sungai Kampar Kanan bermata air dari Gunung Gadang, memiliki luas daerah tangkapan air 5.231 km². Alur utama semula mengalir ke utara kemudian berbelok ke timur, bertemu dengan anak sungai Batang Kapur Nan Gadang, mengalir dengan kemiringan sedang melalui lembah Batubersurat.Selanjutnya bertemu dengan anak sungai Batang Mahat, mengalir ke arah timur. Sungai Kampar Kiri bermata air dari Gunung Ngalau tinggi, Gunung Solok janjang, Gunung Paninjauan Nan Elok, memiliki luas daerah tangkapan air 7.053 km². Sungai Kampar Kiri memiliki banyak anak sungai besar diantaranya bernama Batang Sibayang, Batang Singingi, Sungai Teso, Sungai Lipai, Sungai Sitingkai, serta puluhan sungai-sungai kecil lainnya. Diantara anak-anak sungai batang Kampar Kiri tersebut hanya ada beberapa sungai yang dihuni oleh pemukiman manusia sebagai tempat pemukiman yakni : 1. Sungai Singingi 2. Sungai Sibayang 3. Sungai Sitingkai 4. Sungai Lipai 5. Sungai Teso Diantara lima sungai yang terdapat pemukiman penduduk didalamnya, ada tiga sungai yang memiliki persebaran penduduk yang banyak yakni sungai Singingi, sungai Sibayang dan sungai Sitingkai. Uniknya ketiga sungai ini bermuara di Koto Bungo Setangkai/Lipatkain, dimana dipertemuan diantara tiga sungai ini terletak garis khatulistiwa. Koto Bungo Setangkai ini adalah disebut Kapalo Koto Gunung Sailan, karena Koto Dalam Gunung Sailan terletak dihilir Koto Bungo Setangkai, sedangkan di Hulu Koto Bungo Setangkai terdapat Negeri Lubuk Cimpuer yang disebut Negeri Indo Ajo yang menjadi batas dengan negeri-negeri di rantau Andiko (Sibayang ) dimana Negeri Kuntu Teroba adalah gerbang untuk memasuki negeri-negeri di Antau Andiko (Sungai Sibayang). Sementara aliran sungai Sitingkai juga menjadi jalur utama dan singkat untuk mencapai daerah hulu Kampar kanan melalui hulu sungai ini, atau tepatnya menuju wilayah XIII Koto Kampar melalui negeri Balung dihulu Sitingkai, dimana di Koto tuo XIII koto Kampar juga terdapat peninggalan peradaban tua yakni Candi Muara Takus, yang dianggap sebagai salah satu peninggalan dari Kedatuan Sriwijaya. Dalam cerita rakyat Kampar Kiri pada zaman dahulu sungai Batang Kampar Kiri, itu adalah masih berupa lautan dan anak-anak sungai itu dulunya bermuara ke laut. Laut yang berada di daerah batang Kampar kiri itu dulunya di sebut laut Sailan atau Lawik Sailan menurut dialek lokal Kampar Kiri. Dalam catatan I-Tsing yang Terlupakan, Kini menjadi silang sengketa para ahli atas pengakuan pusat kerjaan Sriwijaya, terbantahkan. Sebuah temuan lama yang tersembunyi dari karya Prof Dr Slamet Muljana, arkeolog dari negara yang sama, menulis dalam bukunya “ Sriwijaya ” tersemat nukilan sejarah dari catatan I-Tsing (Yi-Jing) pada 635-713 M. Ia seorang dari tiga penjelajah terkenal dari Cina. Kedua pendahulunya adalah Fa-Hsien dan Hsuan-Tsang. Bagi Slamet Mulyono, catatan ini sangat kuat. Bahwa I-Tsing pernah menulis keberadaan pusat kota Sriwijaya terletak di daerah khatulistiwa. Deskripsi tempat ini sangat jelas: “Apabila orang berdiri tepat pada tengah hari, maka tidak akan kelihatan bayangannya”. Jika dilihat dari lokasi bayang-bayang tersebut, maka letak Candi Muara Takus, Bungo Setangkai, Gunung Ibul dan Kuntu Teoroba , berdasarkan garis khatulistiwa berada di titik nol atau disekitar garis tengah bumi tersebut, diduga menjadi Tapak-Tapak dari suatu peradaban Tua Sriwijaya di Provinsi Riau ini. Menurut buku Sejarah Riau yang disusun oleh tim penulis dari Universitas Riau terbitan tahun 1998/1999, Kuntu adalah daerah yang pertama-tama di Riau yang berhubungan dengan pedagang-pedagang asing dari Cina, India, dan negeri Arab Persia. Kuntu juga daerah pertama yang memainkan peranan dalam sejarah Riau, karena daerah lembah Sungai Kampar Kiri adalah daerah penghasil lada terpenting di seluruh dunia dalam periode antara 500-1400 masehi. Zaman dahulu, Kuntu dikenal sebagai daerah yang subur dan berperan sebagai gudang penyedia bahan baku lada, rempah-rempah dan hasil hutan. Pelabuhan ekspornya adalah Samudra Pasai, dengan pasar besarnya di Gujarat. Kuntu juga adalah wilayah yang strategis sebab terletak terbuka ke Selat Melaka, tanpa dirintangi pegunungan. Kuntu juga adalah tanah tua yang mula-mula dimasuki Islam yang dibawa oleh para pedagang dan di masa itu baru dianut di kalangan terbatas (pedagang) karena masih kuatnya pengaruh agama Budha yang menjadi agama resmi Sriwijaya di masa itu.Ketika Cina merebut pasaran dagang yang menyebabkan para pedagang Islam Arab-Persia terdesak, maka penyebaran Islam sempat terhenti. Para pedagang Arab-Persia-Maroko mulai kembali berdagang di Kuntu dalam abad ke XII Masehi di masa kekuasaan Kesultanan Mesir era Fatimiyah, dinasti yang mendirikan Universitas Al Azhar di Kairo. Kuntu juga memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Islam Dayah di Aceh di bawah Sultan Johan Syah dalam hal perniagaan. Setelah kerajaan Pasai berdiri, mereka bahkan berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah di Kuntu. Situs Gunung ibul, sudah ditemukan oleh tim penulisan sejarah Riau tahun 1999 sedangkan situs Kuntu Teoroba, sudah dibahas dalam sejarah Minangkabau oleh Mansur MD dan kawan-kawan, pada tahun 1970-an. Catatan tentang kedua daerah ini menjadi sentral dalam catatan sejarah tentang Rantau Kampar Kiri, Kampar maupun propinsi Riau serta sumatera tengah pada Umumnya. Akan tetapi karena Rantau Kampar kiri sangat identik dengan Kerajaan Gunung Sailan yang didirikan sekitar abad ke 16 M, sehingga kajian sejarah tentang Rantau Kampar kiri berputar pada kerajaan yang berumur cukup muda tersebut dengan berpatokan kepada Kerajaan Pagaruyung yang berdiri pada awal abad ke 14 M. Sementara situs-situs peradaban tua yang menjadi soko guru atau identitas asli dari masyarakat Kampar dan Propinsi Riau kurang terperhatikan. Penelitian sejarah di gunung ibul menurut sumber dari H. Anwar Saleh (alm) sudah pernah dilakukan oleh H. Wan Ghalib dan beberapa sejarawan Riau, sedangkan penelitian tentang situs sejarah di Kuntoe Terobah juga sudah sering dilakukan oleh ahli-ahlu budaya dan sejarwan di Riau ini, sedangkan situs-situs berupa makam-makam tua di Koto Bungo Setangkai belum perna dipublikasikan oleh para peneliti dan ahli sejarah. Demikianlah penelitian-penelitian yang pernah dilakukan di wilayah Rantau Kampar Kiri, jelas bahwa penelitian sejarah secara sistematis, baik berupa survey maupun ekskavasi belum pernah dilakukan. Bukti sejarah itu terlalu berharga untuk dilupakan begitu saja. Data yang tersimpan dalam situs, harus bisa kita teruskan kepada generasi mendatang supaya bisa dipelajari dan dimaknai oleh mereka. Sikap Apatis untuk mengkaji dan melestarikan situs sejarah di negeri kita, akan berakibat pada pudarnya kesempatan mereka untuk memahami sejarah tentang diri kita sendiri. Oleh karena itu penelitian terhadap situs harus benar-benar komprehensif, selangkah demi selangkah, tetapi penuh tanggung jawab. B. PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN Dari latar belakang pemikiran diatas maka ditariklah suatu rumusan terhadap topik penelitian diatas yakni “ Bagaimanakah gambaran Sejarah Kedatuan Gunung Ibul Hingga Lahirnya Kerajaan Gunung Sailan..?” Urgensi nya topik ini dibahas menjadi suatu tema penelitian karena banyaknya situs-situs tua dan cerita-cerita rakyat di Kawasan Rantau Kampar Kiri yang menunjukkan adanya bekas-bekas peradaban yang lebih tua dari kerajaan Gunung Sailan. Sehingga perlu de eklporasi kaitan antara situs-situs tua tersebut dengan lahirnya kerajaan Gunung sailan. C. PEMBATASAN MASALAH D. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN Wilayah Rantau Kampar Kiri telah memiliki sejarah yang cukup panjang berbagai tingggalan budaya masa lampau, baik yang berasal dari jaman pengaruh Hindu-Budha , maupun dari jaman pengaruh Islam banyak ditemukan di wilayah ini. Di antara tinggalan-tinggalan budaya itu, tinggalan budaya yang berasal dari jaman pengaruh Hindu-Budha dibuat pada masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke 6-13 M. Meski pun demikian tidak tertutup kemungkinan ada juga yang dibuat pada masa sebelum kerajaan itu berdiri. Berdasarkan berita I- Tsing disebutkan sebuah tempat dimana Ibu Kota Mo-lo you itu terletak tempat dimana pada tengah hari orang menginjak kepalanya (bayangannnya sendiri) dimana lokasi ini menunjukkan arah garis Khatulistiwa. Kemudian juga dalam prasasti kedudukan bukit dimana disebutkan adanya suatu daerah “MinanggaTamwan” yang oleh Poerbocaroko ditafsirkan sebangai “ Minangga Temon atau pertemuan sungai-sungai, sebagai tempat awal kebangkitan sriwijaya. Dimana menurut beliau lokasi Minangga Temon itu adalah pertemuan sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan. Kalau ini benar, tentu sebelum kerajaan Sriwijaya berdiri telah ada suatu bentuk pemerintahan lain di daerah Kampar khususnya di Rantau Kampar Kiri. Data arkeologis menunjukkan bahwa di wilayah Rantau Kampar Kiri, telah lama dihuni orang. Terbukti dengan ditemukakannya bekas-bekas reruntuhan candi an perbentengan di daerah Gunung Sahilan yakni “ situs Gunung Ibul ” kemudia tembayan besar (kendi besar), serta makan-makan tua di daerah Lipatkain atau Bungo Setangkai, yang disebut makam Datuk Kumbuok. Serta. Ditemukannya komplek perkampungan tua, serta makam-makam raja Islam di desa Kuntu kecamatan Kampar Kiri disuatu tempat yang disebut Kebun Rajo. Dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, pengertian situs dijelaskan sebagai berikut: “ Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu”. Sementara itu dalam catatan-catatan sejarah masa lampau dari berbagai penulis baik luar dan dalam negeri, selalu menyebutkan nama Kampar Kiri dan Bandar Kuntu, sebagai sebuah pelabuhan dagang yang besar dikawan pantai timur Sumatera, dimana keberadaan daerah Kuntu sebagai salah satu Bandar dagang Sriwijaya diakui oleh masyarakat sejarah dunia. Berdasarkan data tersebut, penelitian tapak-tapak sejarah tua ini bertujuan mengetahui sebaran pemukiman dan bagaimana bentuk pemukiman kuno di Rantau Kampar Kiri. Apakah merupakan pemukiman sakral, pemukiman profan, ataukah keduanya. Kalau di Gunung Ibul terdapat bangunan dan perbentengan kuno dan di Bungo Setangkai/Lipatkain adalah daerah lintasan Khatulistiwa sedangkan Kuntu adalah pelabuhan dagangan pada masa lampau, tentu ada masyarakat pendukung dari situs-situs itu. Setidak-tidaknya sekelompok masyarakat yang memelihara an menguasai itu situs-situs tersebut. Hal ini untuk memudahkan pengawasan dan pemeliharaanya. Dengan demikian : 1. Tujuan penelitian Sejarah Kedatuan Gunung Ibul Hingga lahirnya Kerajaan Gunung Sailan adalah : a. Berusaha mengetahui bagaimana asal usul dari kelompok masyarakat membuat dan menghuni situs tua di Gunung ibul, Kuntu Teoroba dan Bungo Setangkai serta ditempat lainnya di wilayah Rantau Kampar Kiri serta hubungan diantara situs-situs tersebut; b. Berusaha mencari dan mengetahui bentuk denah bangunan dan barang-barang peninggalan sejarah di Gunung Ibul, Kuntu teoroba dan Bungo Setangkai c. Berusaha mengetahui pertanggalan situs Gunung Ibul, Kuntu Teoroba dan Bungo Setangkai. 2. Kegunaan Penelitian Sejarah Kedatuan Gunung Ibul Hingga lahirnya Kerajaan Gunung Sailan adalah : a. Untuk memetakan situs –situs sejarah di Rantau Kampar Kiri guna melindungi situs tersebut menjadi cagar Budaya daerah b. Sebagai sarana penemuan identitas kebudayaan masyarakat Kampar pada Khusunya dan masyarakat Riau pada Umumnya. c. sebagai sarana pengembangan pariwisata sejarah di kabupaten Kampar serta Propinsi Riau menuju Riau Negeri Wisata. E. METODE PENELITIAN Menurut Gottschalk, (1975:18) ada empat langkah kegiatan dalam prosedur penelitian sejarah, yaitu : 1. Heuristik (mencari sumber) Yaitu kegiatan menghimpun jejak-jejak masa lampau yang berupa keterangan-keterangan, kejadian, benda peninggalan masa lampau dan bahan tulisan. Dalam pengumpulan data ini dilakukan beberapa teknik pengumpulan data, yaitu : a. Studi Pustaka Studi pustaka merupakan kegiatan untuk memperoleh data dengan cara mencari dan membaca buku-buku dan literatur yang relevan dengan tema penelitian. b. Studi Lapangan Untuk Observasi Yang dimaksud dengan studi lapangan yaitu suatu cara melalui pengamatan langsung untuk menghimpun jejak sejarah terhadap lokasi atau objek studi dalam penelitian ini. Dengan teknik ini penulis secara langsung melihat keadaan, suasana, dan kenyataan yang sesungguhnya terjadi di suatu daerah. c. Wawancara Wawancara adalah usaha mengumpulkan keterangan dan informasi tentang kehidupan manusia dalam suatu masyarakat. Wawancara dilakukan terhadap informan, agar yang akan diwawancarai mau menjawab dengan lancar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan maka harus dikembangkan suasana yang harmonis kekeluargaan. Adapun pelaksanaan dari wawancara ini menggunakan teknik wawancara bebas terpimpin yang dimaksud disini adalah bentuk pertanyaan yang diajukan kepada informan bersifat terbuka dan terarah. Sebelum wawancara dilakukan terlebih dahulu menentukan informan yang akan diwawancarai. Hal ini dilakukan dengan maksud supaya penulis dapat menggali dan memperoleh informasi yang disajikan informan serta mampu membedakan informasi yang sesungguhnya dan informasi yang semu. Setelah langkah-langkah tersebut dilakukan, maka perlu mempersiapkan beberapa hal teknis, yaitu : 1) Dibuat pedoman wawancara. 2) Menghubungi informan yang akan diwawancarai. 3) Pengaturan waktu, hari, dan tempat wawancara. 4) Persiapan-persiapan lain yang diperlukan. 2. Kritik Sumber Kritik sumber adalah usaha kegiatan untuk mendapatkan data yang tingkat kebenarannya atau kredibilitas paling tinggi dengan melalui seleksi data yang telah terkumpul. Kritik sumber ini dibedakan kritik ekstern dan kritik intern. a. Kritik Ekstern, yaitu yang bertujuan untuk menguji otensitas, asli tidaknya sumber yang dipakai. Caranya dengan kompilasi atau membandingkan antara buku dengan dokumen yang diperoleh, sumber yang dipakai dari buku yang bersangkutan saling diperbandingkan juga. Tidak semua jawaban ditulis karena tidak lulus seleksi. Hal ini wajar karena tiap pribadi mempunyai sudut pandang yang berbeda. Dalam penelitian ini penulis telah melakukan kritik ekstern yaitu penilaian terhadap buku-buku referensi dan pemilihan informan untuk melakukan teknik wawancara . Dalam melakukan kritik ekstern terhadap sumber-sumber tertulis dengan cara menilai apakah sumber-sumber yang penulis peroleh merupakan sumber yang sesuai dengan permasalahan yang penulis kaji atau tidak. b. Kritik Intern. Yaitu kritik yang menilai sumber-sumber yang berhasil dikumpulkan. Sumber-sumber itu berupa buku-buku kepustakaan guna melihat isinya relevan dengan permasalahan yang dikaji serta bisa dipercaya kebenarannya. Pada tahap kritik intern untuk mengkritisi hasil wawancara, yaitu dengan membandingkan isi data yang penulis peroleh di lapangan berupa hasil wawancara dari para informan yang satu dengan informan yang lain. Pembandingan jawaban tersebut bertujuan untuk mempermudah penulis dalam mengambil satu kesimpulan mengenai keterangan yang diberikan oleh para informan tersebut akan kebenaran jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Hal ini dilakukan karena ingin memperoleh jawaban dengan nilai pembuktian dari isi atau data sumber tersebut masih relevan atau tidak. 3. Interpretasi Interpretasi merupakan usaha untuk mewujudkan rangkaian data-data yang mepunyai kesesuaian satu sama lain dan bermakna (Widja, 1989:23). Interpretasi ini dilakukan untuk menentukan makna yang saling berhubungan antara data yang telah diperoleh, pada tahap ini data data yang diperoleh di olah hingga diperoleh fakta sejarah.Fakta-fakta sejarah yang telah melalui tahap kritik sumber dihubungkan atau saling dikaitkan sehingga pada akhirnya akan menjadi suatu rangkaian yang bermakna. 4. Historiografi Penyususunan kesaksian yang dapat dipercaya menjadi suatu kisah atau penyajian yang berarti. Bentuk dari cerita sejarah ini akan ditulis secara kronologi dengan topik yang jelas sehingga akan mudah untuk dimengerti dan dengan tujuan agar pembaca dapat mudah memahaminya. Hasil dari penelitian yang diteliti secara ilmiah dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan ejaan yang berlaku tanpa mengurangi daya tarik untuk membaca yang kemudian dibukukan. sedangkan menurut Ismaun (1993:22) historigrafi merupakan merekontruksi imajinatif masa lalu manusia berdasarkan bukti bukti dan data data yang diperoleh proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau. Metode dasar yang akan diterapkan dalam penelitian sejarah kedatuan Gunung Ibul Hingga Lahirnya Kerajaan Gunung Sailan ini adalah: 1. Metode Eksploratif Study. Metode eksploratif dengan maksud mencari dasar-dasar atau asal usul keberadaan situs-situs tua tersebut melalui bukti-bukti primer yang berasal dari penduduknya melalui metode interview dengan melibatkan para tetuo adat dan orang-orang yang memiliki informasi tentang keberdaann situs-situs tersebut. Asal-usul atau berupa cerita rakyat/foklor, legenda-legenda, ataupun mitologi tentang keberadaan situs-situs tersebut. Serta juga memakai sumber data primer berupa catatan-catatan memalui riset dokumentasi/library. 2. Metode survei ekskavasi. Survei dilakukan dengan maksud memilih dan mencari indikator pada lokasi yang diduga terdapat sisa pemukiman masa lampau. Dalam survey Ekskavasi gejala yang perlu diperhatikan adalah topografi permukaan tanah dan singkapan-singkapan tanah. Dari pengamatan itu diharapkan dapat ditemukan indikator pemukiman masa lampau. Bentuk topografi yang landai dan dekat air lebih memungkinkan manusia untuk tinggal di tempat tersebut. Pengaruh pengikisan oleh arus air sungai Kampar kiri juga mempengaruhi pengamatan terhadap sisa pemukiman masa lampau. Arus sungai Kampar Kiri diwaktu banjir dapat menutup sisa pemukiman. Oleh sebab itu pengamatan terhadap singkapan tanah dan didalam batang air sungai harus dilakukan. Hasil survei permukaan itu kemudian dipetakan dalam sebuah peta topografi yang berskala kecil. Dengan peta ini diharapkan dapat diketahui sebaran pemukiman masa lampau. Ekskavasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kronologi situs, dan untuk mengetahui keletakan temuan secara tepat pada lapisan tanah. Penelitian Tapak sejarah peradaban Tua Gunung Ibul, Bungo Setangkai dan Kuntu di Rantau Kampar Kiri baiknya dilaksanakan pada musim kemarau, yaitu tanggal Maret 2014- Agustus 2014, selama 6 Bulan, karena pada bulan-bulan itu dapat memudahkan survei dan ekskavasi. Pengamatan terhadap lapisan tanah dan didalam sungai akan menjadi sulit apabila turun hujan. F. SISTEMATIKAN PENULISAN Rencana penulisan Sejarah Kedatuan Gunung Ibul Hingga Lahirnya Kerajaan Gunung Sailan ini terdiri atas IV BAB yaitu : BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH B. PERUMUSAN MASALAH PENELITIAN C. PEMBATASAN MASALAH D. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN E. METODE PENELITIAN F. SISTEMATIKAN PENULISAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. CATATAN-CATATAN SEJARAH TENTANG RANTAU KAMPAR KIRI B. TEMUAN PENELITI TERDAHULU TENTANG BUKTI SEJARAH DI RANTAU KAMPAR KIRI BAB III HASIL PENELITIAN A. EKPLORASI CERITA RAKYAT RANTAU KAMPAR KIRI TENTANG a. Kedatuan Gunung Ibul b. Kedatuan Bungo Satangkai c. Kedatuan Kuntu Teoroba B. TEMUAN-TEMUAN BUKTI ARKEOLOGIS TENTANG DI RANTAU KAMPAR KIRI TENTANG a. Kedatuan Gunung Ibul b. Kedatuan Bungo Satangkai c. Kedatuan Kuntu Teoroba C. HUBUNGAN KEDATUAN GUNUNG IBUL DENGAN LAHIRNYA KERAJAAN GUNUNG SAILAN BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN B. SARAN-SARAN DAFTAR PUSTAKA DAFTAR NARASUMBER/RESPONDEN BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. CATATAN SEJARAH TENTANG RANTAU KAMPAR KIRI Jejak-jejak sumber tertulis tentang peradaban Tua dipulau Swarnabumi/ Sumatera dapat dirumut melalui kajian pustaka, dimana para sejarwan sepakat tentang adanya sebuah Tamaddun atau peradaban politik dari bangsa Melayu yakni Sriwijaya. Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal, dan kerajaan besar di kawasan Nusantara selain Majapahit di Jawa Timur. Pada abad 20, kedua kerajaan besar ini menjadi referensi oleh kaum nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelum adanya kolonialisme Belanda. Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Shih-li-fo-shih atau San-fo-ts’i atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabaj dan Khmer menyebutnya Malayu. Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan. Sementara dari peta Ptolemaeus ditemukan keterangan tentang adanya tiga pulau Sabadeibei yang kemungkinan berkaitan dengan Sriwijaya. Sekitar 1993, seorang bernama Pierre-Yves Manguin melakukan observasi. Ia pun berpendapat bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatera Selatan sekarang). Namun sebelumnya, sejarawan bernama Soekmono berpendapat bahwa pusat Sriwijaya terletak pada kawasan sehiliran Batang Hari, antara Muara Sabak sampai ke Muara Tembesi (di provinsi Jambi sekarang). Dalam catatan Malayu tidak di kawasan tersebut, Bila Malayu ada di kawasan tersebut, ia cendrung kepada pendapat Moens, yang sebelumnya berpendapat bahwa letak dari pusat kerajaan Sriwijaya berada pada kawasan Candi Muara Takus (provinsi Riau sekarang). Dengan asumsi petunjuk arah perjalanan dalam catatan I Tsing, serta hal ini dapat juga dikaitkan dengan berita tentang pembangunan candi yang dipersembahkan oleh raja Sriwijaya (Se li chu la wu ni fu ma tian hwa atau Sri Cudamaniwarmadewa ) di tahun 1003 kepada kaisar Cina yang dinamakan cheng tien wan shou (Candi Bungsu, salah satu bagian dari candi yang terletak di Muara Takus). Sumber, http://jakartapedia.net/index.php?title=Sriwijaya Catatan I-Tsing yang Terlupakan Kini, silang sengketa para ahli atas pengakuan pusat kerjaan Sriwijaya, terbantahkan. Sebuah temuan lama yang tersembunyi dari karya Prof Dr Slamet Muljana, arkeolog dari negara yang sama, menulis dalam bukunya “Sriwijaya” tersemat nukilan sejarah dari catatan I-Tsing (Yi-Jing) pada 635-713. Ia seorang dari tiga penjelajah terkenal dari Cina. Kedua pendahulunya adalah Fa-Hsien dan Hsuan-Tsang. Bagi Slamet Mulyono, catatan ini sangat kuat. Bahwa I-Tsing pernah menulis keberadaan pusat kota Sriwijaya terletak di daerah khatulistiwa. Deskripsi tempat ini sangat jelas: “Apabila orang berdiri tepat pada tengah hari, maka tidak akan kelihatan bayangannya”. Jika dilihat dari lokasi bayang-bayang tersebut, maka letak Candi Muara Takus pada siang hari, berdasarkan garis khatulistiwa berada di titik nol atau tanpa ada bayangan. Nah, jika Palembang, Jambi dan beberapa daerah lain juga negara di Asia Tenggara mengaku bahwa pusat kerajaan Sriwijaya ada di wilayah mereka, maka kita kembali kepada pangkal: catatan I-Tsing, bahwa pusat kerajaan Sriwijaya berada pada siang hari tidak ada bayang-bayang. "Ini kuasa Allah. Dari dasar inilah, banyak bukti menunjukkan, bahwa pusat kerajaan Sriwijaya ada di Desa Muara Takus, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau," (Sumber : A.Latif Hasyim, Sejarawan Kampar). Seorang biksu dan juga pelaut China bernama Itsing (671M) dalam dua bukunya berjudul “Nan hai kuei nai fa chuan” dan “Ta tang si yu kufa kao seng chuan” menceritakan, ibukota Sriwijaya itu apabila berdiri disana maka bayang-bayang seakan seakan tidak ada. Bila diletakkan tongkat Wela Cakra, maka bayangannya tidak lebih pendek atau tak lebih panjang. Bila dianalisa, ada beberapa tempat lainnya yang pernah disebut sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya seperti Jambi, Palembang, Kedah dan Teluk Tonking. Namun dari tempat-tempat tersebut hanya Muara Takus yang terletak tepat di garis Khatulistiwa. Itsing juga menyebutkan pusat Kerajaan Sriwijaya ini dikelilingi tembok-tembok batu dan tembok tanah yang sangat panjang dan besar. Apa yang disebutkan Itsing ini ternyata ada di Muara Takus. Bekas-bekas tembok yang diceritakan Itsing ini hingga saat ini masih bisa dilihat di Muara Takus. Di Indonesia sendiri, sejarawan yang menulis buku Sriwijaya, Prof. DR. Slamet Mulyana menulis bahwa berita dari Arab dan China menyebutkan Ibukota Sriwijaya itu terletak di pinggir sungai besar. Sama halnya dengan J.L. Moens yang menyimpuilkan Sriwijaya terletak di daerah pertemuan dua sungai besar yakni Sungai Kampar Kanan dan Batang Mahat. Selain pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya yang merupakan kerajaan tertua di Asia Tenggara dan dinasti terlama di dunia (3-13 Masehi), Muara Takus juga sebagai pusat pendidikan dan pusat agama Budha dunia. Muara Takus sering dikunjungi para biksu salah satunya Itsing yang ingin memperdalam agama Budha. Selama di Muara Takus inilah Itsing berhasil menulis dua buku.Tulisan Itsing ini yang menjadi kunci utama untuk memastikan bahwa Muara Takus merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya yang disebutnya Shih Li Posih. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang terletak di pulau Sumatra, tepatnya di Palembang. Menurut dugaan, kerajaan sriwijaya selalu berpindah-pindah.Awalnya berada di Minangatamwan (daerah sekitar Candi Muara Takus di Riau daratan). Kemudian dipindahkan ke Jambi, lalu ke Palembang.Hal ini diperkuat dengan ditemukannya sebuah candi di Muara Takus.Dan di Palembang ditemukan arca Buddha Siguntang, karena pada abad ke 8 M, kerajaan Sriwijaya menjadi pusat ziarah dan belajar agama Budha. Kerajaan ini berdiri sekitar awal abad ke 7 M. Kerajaan Sriwijaya merupakan kerajaan Buddha terbesar di Asia Tenggara karena memiliki daeraah jajahan yang luas dan menguasai perdagangan laut. Daerah jajahannya meliputi: Laut Natuna, Semenanjung Malaya, Tanah genting Kra, Selat Malaka, Laut Jawa, Ligor, Kelantan, Pahang, Jambi, dan Selat Sunda. Perdagangan kerajaan Sriwijaya sangat besar dan maju disebabkan oleh faktor-faktor berikut: 1. Letak Sriwijaya strategis berada pada jalur perdagangan India-Cina. 2. Armada laut Sriwijaya kuat sehingga mampu menjalin hubungan dan kerjasama dengan India dan Cina 3. Sriwijaya telah menguasai daerah jajahan yang luas sebagai pusat-pusat perdagangan 4. Sriwijaya mempunyai hasil bumi melimpah sebagai bahan dagang yang berharga, terutama rempah-rempah dan emas Kerajaan sriwijaya mencapai puncak kejayaannya pada abad ke 7 dan ke 8 M pada masa pemerintahan Balaputradewa. Menurut prasasti Nalanda di India, Balaputradewa adalah cucu raja di Jawa yang berasal dari keluarga Syailendra. Ayahnya bernama Samaratungga dan Ibunya adalah Dewi Taraputri, putri raja Dharmasetu (Sriwijaya). Sumber sejarah adanya kerajaan Sriwijaya antara lain : 1. Prasasti Kedukan Bukit (683 M) Prasasti ini ditemukan oleh M. Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatra Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti ini berukuran 45 x 80 cm dan terdiri dari 10 baris kalimat. Isinya menceritakan bahwa pada tahun 683 M raja Sriwijaya bernama Dapunta Hyang yang membawa tentara sebanyak 20.000 orang berhasil menundukkan daerah Minangatamwan. Mereka menang dan berhasil mendirikan kota Sriwijaya. Berikut tulisan prasasti Kedukan Bukit: svasti śrī śakavaŕşātīta 605 (604 ?) ekādaśī śu apunta hiyaklapakşa vulan vaiśākha d<m> nāyik di sāmvau mangalap siddhayātra di saptamī śuklapakşa apunta hiyavulan jyeşţha d<m> maŕlapas dari minānga vala dualakşa dangan ko-tāmvan mamāva yam duaratus cāra di sāmvau dangan jālan sarivu di mata japtlurātus sapulu dua vañakña dātam sukhacitta di pañcamī śuklapakşa vula…. marvuat vanua …..laghu mudita dātam śrīvijaya jaya siddhayātra subhikşa ….. Terjemahan per baris: 1. Selamat ! Tahun Śaka telah lewat 604, pada hari ke sebelas 2. paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyaŋ naik di 3. perahu “ mengambil siddhayātra ”. Pada hari ke tujuh paro-terang 4. bulan Jyestha Dapunta Hiyang bertolak dari Minanga 5. sambil membawa 20.000 tentera dengan perbekalan 6. sebanyak dua ratus (peti) berjalan dengan perahu dan yang berjalan kaki sebanyak seribu 7. tiga ratus dua belas datang di Mukha Upaŋ 8. dengan sukacita. Pada hari ke lima paro-terang bulan ……… 9. dengan cepat dan penuh kegembiraan datang membuat wanua (….) 10. Śrīwijaya menang, perjalanan berhasil dan menjadi makmur senantiasa 2. Candi Muara Takus Candi ini terletak di desa Muara Takus, kecamatan XIII, Kota Kampar, Riau. (Sumber) http://tikachan.wordpress.com/kerajaan-sriwijaya/ Kerajaan Sriwijaya telah ada sejak 671, sesuai dengan catatan I Tsing, dari prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 diketahui kerajaan ini di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang. Di abad 7 ini, orang Tiongkok mencatat bahwa terdapat dua kerajaan yaitu Malayu dan Kedah menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya. Berdasarkan prasasti Kota Kapur berangka tahun 686 yang ditemukan di pulau Bangka, kemaharajaan ini telah menguasai bagian selatan Sumatera, pulau Bangka dan Belitung, hingga Lampung. Prasasti ini pun menyebutkan bahwa Sri Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum Bhumi Jawa yang tidak berbakti kepada Sriwijaya, peristiwa ini bersamaan dengan runtuhnya Tarumanagara di Jawa Barat dan Holing (Kalingga) di Jawa Tengah yang kemungkinan besar akibat serangan Sriwijaya. Sriwijaya tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di Selat Malaka, Selat Sunda, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata. Dalam dunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yakni dengan penguasaan atas selat Malaka dan selat Sunda.Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditi seperti kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India.Kekayaan yang melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli kesetiaan dari raja-raja bawahannya di seluruh Asia Tenggara. Pada paruh pertama abad 10, diantara kejatuhan dinasti Tang dan naiknya dinasti Song, perdagangan dengan luar negeri cukup marak, terutama Fujian, kerajaan Min dan negeri kaya Guangdong, kerajaan Nan Han. Tak diragukan lagi Sriwijaya mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini. Kerajaan Sriwijaya menguasai perdagangan nasional dan internasional di wilayah perairan Asia Tenggara. Barang dagangannya berupa kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, kayu cendana, pala, kardamunggu, gambir, kapulaga, lada, gading, emas, perak, timah, kayu hitam, kayu sapan, penyu, dan rempah-rempah lainnya.Barang-barang tersebut dijual atau dibarter dengan kain katu, sutera dan porselen melalui relasi dagangnya dengan Cina, India, Arab dan Madagaskar. Kemaharajaan Sriwijaya bercirikan kerajaan maritim, yang mengandalkan hegemoni kekuatan armada laut dalam menguasai alur pelayaran, jalur perdagangan, menguasai dan membangun beberapa kawasan strategis sebagai pangkalan armadanya. Pangkalan ini digunakan untuk mengawasi, melindungi kapal-kapal dagang, memungut cukai serta untuk menjaga wilayah kedaulatan dan kekuasaanya. Pembentukan satu negara kesatuan dalam dimensi struktur otoritas politik Sriwijaya, dapat dilacak dari beberapa prasasti yang mengandung informasi penting tentang kadātuan, vanua, samaryyāda, mandala dan bhūmi. Kadātuan dapat bermakna kawasan dātu, (tanah rumah) tempat tinggal bini hāji, tempat disimpan mas dan hasil cukai (drawy) sebagai kawasan yang mesti dijaga. Kadātuan ini dikelilingi oleh vanua, yang dapat dianggap sebagai kawasan kota dari Sriwijaya yang didalamnya terdapat vihara untuk tempat beribadah bagi masyarakatnya. Kadātuan dan vanua ini merupakan satu kawasan inti bagi Sriwijaya itu sendiri. Menurut Casparis, samaryyāda merupakan kawasan yang berbatasan dengan vanua, yang terhubung dengan jalan khusus (samaryyāda-patha) yang dapat bermaksud kawasan pedalaman. Sedangkan mandala merupakan suatu kawasan otonom dari bhūmi yang berada dalam pengaruh kekuasaan kadātuan Sriwijaya. Penguasa Sriwijaya disebut dengan Dapunta Hyang atau Maharaja, dan dalam lingkaran raja terdapat secara berurutan yuvarāja (putra mahkota), pratiyuvarāja (putra mahkota kedua) dan rājakumāra (pewaris berikutnya).Prasasti Telaga Batu banyak menyebutkan berbagai jabatan dalam struktur pemerintahan kerajaan pada masa Sriwijaya. Dari catatan sejarah dan bukti arkeologi, pada abad 9, Sriwijaya telah melakukan kolonisasi di hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara, antara lain Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Filipina. Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat. Sriwijaya mengakumulasi kekayaannya sebagai pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, dan India. (sumber) http://bjn.wikipedia.org/wiki/Kedatuan_Sriwijaya Sungai Kampar atau ( Batang Kampar ) merupakan sebuah sungai di Indonesia, berhulu di Bukit Barisan sekitar Sumatera Barat dan bermuara di pesisir timur Pulau Sumatera Riau. Sungai ini merupakan pertemuan dua buah sungai yang hampir sama besar, yang disebut dengan Kampar Kanan dan Kampar Kiri. Pertemuan ini berada pada kawasan Langgam (Kabupaten Pelalawan), dan setelah pertemuan tersebut sungai ini disebut dengan Sungai Kampar sampai ke muaranya di Selat Malaka. Aliran Sungai Kampar Kanan menelusuri Lima Puluh Kota dan Kampar, sedangkan aliran Sungai Kampar Kiri melewati Sijunjung, Kuantan Singingi dan Kampar, kemudian kedua aliran sungai tersebut berjumpa di Langgam Pelalawan. Sungai Kampar Kanan bermata air dari Gunung Gadang, memiliki luas daerah tangkapan air 5.231 km².Alur utama semula mengalir ke utara kemudian berbelok ke timur, bertemu dengan anak sungai Batang Kapur Nan Gadang, mengalir dengan kemiringan sedang melalui lembah Batubersurat.Selanjutnya bertemu dengan anak sungai Batang Mahat, mengalir ke arah timur. Sungai Kampar Kiri bermata air dari Gunung Ngalautinggi, Gunung Solokjanjang, Gunung Paninjauan Nan Elok, memiliki luas daerah tangkapan air 7.053 km².Dua anak sungai besar bernama Batang Sibayang dan Batang Singingi. Sungai, kiranya merupakan kunci terpenting dalam proses pembentukan kebudayaan sekaligus peradaban. Lihat saja, bagaimana kebudayaan bangsa-bangsa besar tumbuh di sekitar lembah sungai. Sebut saja kebudayaan lembah sungai Indus di India, kebudayaan lembah sungai Mekong; kebudayaan lembah sungai Nil di Mesir; kebudayaan lembah sungai Eufrat serta Trigis; dan sebagainya. Ada banyak alasan yang mendorong manusia untuk membentuk kebudayaannya di sepanjang sungai. Diantaranya, ketersediaan sumber air dan pangan. Pada akhirnya, sungai pun menjadi tempat tumbuh kembang kebudayaan suatu masyarakat sekaligus kehancurannya. Kehancuran itu, antara lain disebabkan karena ketidakmampuan masyarakat menjawab tantangan yang diberikan oleh alam (sungai). Kehancuran kebudayaan itu, mengutip beberapa pendapat, kemudian menjadi faktor pendorong masyarakat untuk beringsut ke arah hutan atau bahkan gunung guna membangun kebudayaan baru. Salah satu sungai yang mengandung bekas-bekas peradaban tua bangsa melayu di riau ini adalah sungai Batang Kampar Kiri di kabupaten Kampar. Kebudayaan dan peradaban memang merupakan aspek-aspek kehidupan sosial manusia yang memiliki sedikit perbedaan tapi dari perbedaan tersebut dapat diambil jalan tengah yaitu peradaban dan kebudayaan adalah dua aspek dalam kehidupan manusia, ada hubungan timbal balik antara keduanya. Sebagaimana hubungan antara aspek spiritual, mental dan material dalam diri manusia. Kebudayaan ataupun peradaban, mengandung pengertian yang luas, meliputi pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat. Kata “ kebudayaan ” berasal dari kata Sansekerta buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Demikian kebudayaan itu dapat diartikan “ hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal .” Ada pendirian lain mengenai asal dari kata kebudayaan itu, ialah bahwa kata itu adalah suatu perkembangan dari majemuk budi-daya, artinya daya dan budi, kekuatan dari akal. Adapun istilah inggrisnya berasal dari kata Latin colere yang berarti “ mengolah, mengerjakan”, terutama mengolah tanah atau bertani . Dari arti ini berkembang arti culture sebagai segala daya dan usaha manusia untuk merubah alam. Adapun istilah peradaban dapat kita sejajarkan dengan kata asing civilization . Istilah itu biasanya dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah, seperti : kesenian, ilmu pengetahuan, serta sopan-santun dan sistem pergaulan komplex dalam suatu masyarakat dengan struktur yang komplex. Sering juga istilah peradaban dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan dan ilmu pengetahuan yang maju dan komplex. Kebudayaan adalah sebagai sesuatu yang “ sedang menjadi ” (it becomes), sedangkan peradaban adalah sebagai sesuatu yang “ sudah selesai ” (it has been). Contoh dari peradaban adalah bangunan-bangunan monumental seperti Borobudur, Piramida, Tembok Besar Cina, serta berbagai hal monumental lain. Sementara itu contoh dari kebudayaan antara lain makanan dan minuman, pakaian, dan berbagai hal yang masih memiliki kecenderungan untuk terus berkembang B. TEMUAN PENELITI TERDAHULU TENTANG BUKTI SEJARAH DI RANTAU KAMPAR KIRI Dalam buku Sejarah Riau yang disusun Wan Galib dkk dalam BAB VI yakni Riau Menghadapi Kolonialisme Belanda, tepat pada halaman 355-357 disebutkan tentang Kerajaan Kamparkiri. Berdirinya kerajaan ini tidak diketahui secara pasti namun salah satu peninggalannya adalah suatu tempat disebut benteng yang menjadi peninggalan bersejarah. Bernama Gunung ibul Pada mulanya, Gunung Sahilan bernama Gunung ibul. Letak perkampungannya, berjarak satu kilometer dari kampung sekarang ini. Di kawasan Gunungibul itu, masih terdapat beberapa bekas situs sejarah yang juga tidak terawat dan nyaris hilang sejak perkebunan kelapa sawit menjamur di sepanjang Sungai Kampar. Di masa Gunungibul, atau Kerajaan Gunung sahilan Jilid I, masyarakat masih beragama Budha, dibuktikan dengan bekas-bekas kandang babi dan tapak-tapak benteng. Beberapa keturunan raja terakhir, Tengku Yang Dipertuan (TYD) atau lebih sering disebut Tengku Sulung (1930-1941) seperti Tengku Rahmad Ali dan Utama Warman, kerajaan Gunungsahilan Jilid I diawali dengan Kerajaan Gunung ibul yang merupakan kerajaan kecil. Menurut penuturan nenek moyang dan orangtua mereka, Kerajaan Gunung ibul ada setelah runtuhnya kerajaan Sriwijaya. Pembesar-pembesar istana berpencar satu persatu dan mulai mendirikan kerajaan-kerajaan kecil, salah satunya di kawasan Gunung ibul. Cerita soal Kerajaan Gunung ibul memang tidak memiliki bukti kuat seperti kerajaan Gunung Sahilan sekarang. Sebab kami mendapatkannya dari cerita secara turun-temurun tapi kami percaya karena memang bukti-buktinya masih ada,” ungkap Tengku Rahmad Ali yang tinggal di sisi kanan, luar pagar komplek istana. Disamping adanya cerita rakyat tentang keberadaan peradaban tua di daerah Rantau Kampar Kiri, eksistensi daerah ini dalam catatan sejarah Indonesia juga diakui. Menurut buku Sejarah Riau yang disusun oleh tim penulis dari Universitas Riau terbitan tahun 1998/1999, Kuntu adalah daerah yang pertama-tama di Riau yang berhubungan dengan pedagang-pedagang asing dari Cina, India, dan negeri Arab Persia. Kuntu juga daerah pertama yang memainkan peranan dalam sejarah Riau, karena daerah lembah Sungai Kampar Kiri adalah daerah penghasil lada terpenting di seluruh dunia dalam periode antara 500-1400 masehi. Zaman dahulu, Kuntu dikenal sebagai daerah yang subur dan berperan sebagai gudang penyedia bahan baku lada, rempah-rempah dan hasil hutan. Pelabuhan ekspornya adalah Samudra Pasai, dengan pasar besarnya di Gujarat.Kuntu juga adalah wilayah yang strategis sebab terletak terbuka ke Selat Melaka, tanpa dirintangi pegunungan. Kuntu juga adalah tanah tua yang mula-mula dimasuki Islam yang dibawa oleh para pedagang dan di masa itu baru dianut di kalangan terbatas (pedagang) karena masih kuatnya pengaruh agama Budha yang menjadi agama resmi Sriwijaya di masa itu.Ketika Cina merebut pasaran dagang yang menyebabkan para pedagang Islam Arab-Persia terdesak, maka penyebaran Islam sempat terhenti. Para pedagang Arab-Persia-Maroko mulai kembali berdagang di Kuntu dalam abad ke XII Masehi di masa kekuasaan Kesultanan Mesir era Fatimiyah, dinasti yang mendirikan Universitas Al Azhar di Kairo.Kuntu juga memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Islam Dayah di Aceh di bawah Sultan Johan Syah dalam hal perniagaan.Setelah kerajaan Pasai berdiri, mereka bahkan berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah di Kuntu. BAB III HASIL PENELITIAN A. EKPLORASI CERITA RAKYAT RANTAU KAMPAR KIRI a. Kedatuan Gunung Ibul b. Kedatuan Bungo Satangkai Dalam cerita rakyat yang diwariskan turun temurun tentang sejarah dan adat Kenegerian Lipatkain yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi disebutkan bahwa, pada zaman dahulu kala datanglah dua orang datuk kedaerah Lipatkain secara bersamaan yaitu datuk pertama bernama Datuk Sutan Lawik Api beliau datang dengan perahu dari selat Malaka mudik ke Sungai Ombun (Batang Kampar Kiri) dan singgah (maontak Gala, membuang sauh) di daerah yang sekarang Lipatkain. Ditepi sungai tersebut Datuk Sutan Lawik Api Manundo Kapae Sosak, Malambe (menebas) Kalimunting membuat ladang dan kebun. Tidak jauh disebelah hulu sungai datang pula seorang Datuk dari hulu sungai Kampar kiri yaitu Datuk Godang menghilir dari hulu dan singgah membuat ladang dan kebun pula. Kemudian disaat kedua Datuk tadi berburu binatang, dan menggumpulkan makanan dihutan( foodghatering). Maka berjumpalah mereka berdua, maka terjadilah dialok diantara keduanya tentang siapa yang dahulu datang di daerah Lipatkain ini. Masing-masing datuk mengakui dirinya yang dahulu datang dan berhak atas daerah Lipatkain dengan menunjukkan tanda-tanda masing-masing. Setelah menunjukkan bukti masing-masing ternyata kedua datuk memang datang bersamaan, sehingga mereka bersepakat untuk tinggal bersama-masa membangun Banje/Banjar (pemukiman bersama), dan ladang serta membuat janji persaudaraan layak nya adik dan kakak (Cilampuong bata baindiak sutonyo batali juo). Disaat kedua datuk sedang berburu di atas bukit pematang sikai, mereka melihat asap api yang sangat besar di daerah aliran sungai Singingi. Maka kedua Datuk kedaerah berangkat menyelusuri sungai Singingi melihat apa gerangan yang terjadi. Didaerah Singingi kedua datuk menemui kampuong yang tengah terbakar dan mayat-mayat yang berserakan, rupanya daerah Singingi ‘diala’ (diserang Garudo). Diiantara bangunan dan mayat-mayat yang berserakan, kedua Datuk tersebut mendengar tangisan anak kecil diantara reruntuhan rumah yang hancur diamuk Garudo. Direruntuhan rumah tersebut Sang Datuk menemukan seorang gadis kecil yang selamat. Maka gadis kecil tersebut dibawah ke Banjae/Banjar di Bungo Satangkai (Lipatkain) dan dibesarkan oleh kedua orang datuk tersebut. Setelah berlalunya waktu, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun pun berganti. Maka gadis kecil yang diberi nama “Puti Majo/ Putri Maharaja ” beranjak remaja dan dewasa maka tampaklah kecantikan dan rupawan nya sang Putri. Melihat paras yang rupawan maka jatuh hatilah kedua datuk pada Puti Majo, maka jadilah perselisihan tentang siapa yang berhak untuk mengawini Sang Putri. (Sumber : Bapak Jasrial ). Puncak dari persaingan antara kedua Datuk, maka terjadilah pertarungan antara keduanya, setelah sekian lama bertarung, saling adu kesaktian, rupanya kedua datuk sama-sama pendekar dan tidak ada yang menang dan kalah. Setelah lelah bertarung maka dibuatlah kesepakatan untuk bersama-sama meninggalkan Banjar dan meninggalkan Puti Majo sendirian. Datuk Godang lari keseberang Kampuong dan menetap disana, sedangkan Datuk Sutan Lawik Api lari ke hulu Batang Olang dan menetap pula disana. Tidak lama berselang maka datanglah Datuk Sinaro kedaerah Bungo Satangkai, di daerah tersebut Datuk Sinaro menemui seorang gadis menagis sendirian. Gadis tersebut adalah Puti Majo, Puti Majo menceritakan kisah tentang kedua Kakak angkat nya yaitu Datuk Sutan Lawik Api dan Datuk Godang yang berselisih dan meningalkan Kampuong karena memperebutkan dirinya. Dan meminta Datuk Sinaro untuk menjemput keduanya kembali ke Kampuong. Maka Datuk Sinaro berhasil membujuk kedua datuk untuk kembali kekampuong Bungo Satangkai dan memperdamaikan keduanya. Maka dibuatlah kesepakatan bahwa Datuk Sutan Lawik Api, Datuk Godang dan Puti Majo adalah bersaudara dan tidak boleh saling menikahi hal ini juga berlaku bagi anak keturunan mereka hingga hari ini (Cilampuong pata baindiak sutonyo batali juo). Maka Puti Majo dinikahi oleh Datuk Sinaro maka Datuk Sinaro menjadi simondo dari Datuk Sutan Lawik Api dan Datuk Godang. Maka dibagilah kekuasaan diantara datuk-datuk tersebut dimana Datuk Sutan Lawik Api (Suku Putopang Basa) adalah Pemilik Rantau, Datuk Godang (suku Pitopang Tonga) Pemilik tanah Ulayat dan Puti Majo (Malayu Datu Majo) Pemilik Negeri, sehingga ketiga datuk adalah penguasa dinegeri Lipatkain dengan sebutan (Datuk Batigo) yakni suku Putopang Basa, Putopang Tonga, Malayu Datu’ Majo. Sedangkan Datuk Sinaro (suku Maliling) adalah Suluh Negeri (Andiko Besar). Maka dibuatlah sebuah Negeri dengan nama Negeri Bungo Setangkai, inilah nama awal dari negeri Lipatkain. Letak awal pemukiman Bungo Satangkai itu terletak dibukit pematang Sikai yakni bukit yang lertetak antara sungai Sitingkai dan Sungai Sibayang. Dimana letak Koto Bungo Satangakai hari ini adalah di belakang Tugu Khatulistiwa Lipatkain Selatan. Dimana dilokasi ini masih terdapat kuburan tua, yang disebut oleh masyarakat disana bernama kuburan “ Datuk Kumbuok”. Dimana Datuk ini dipercayai memiliki badan yang besar dan tinggi, dan dianggap sebagai nenek moyang masyarakat Bungo Satangkai. Dalam perjalalan sejarah berdasarkan tradisi lisan turun temurun diketahui bahwa, perna terjadi perpindahan lokasi pemukiman penduduk sebanyak 3 kali yakni, perpindahan pertama terjadi karena Koto Bungo Satangkai diserang Pacet/acek (lintah Darat). Akibat wabah pacet tersebut koto Bungo Satangkai terpaksa ditinggalkan, penduduk berpindah kearah hilir sungai yakni disekitar lokasi SMUN 1 Kampar Kiri hari ini. Perkampungan baru penduduk pindahan dari Koto Bungo satangkai ini diberi nama “Lipatkain” , karena di tepi sungainya terdapat gundukan batu-batu karang berbentuk lipatan kain. Akan tetapi pada suatu masa Koto Lipatkain ini terpaksa ditinggalkan oleh penduduknya karena adanya serangan ikan “ Kapiak” yang sangat ganas. Karena adanya serangan ikan kabiak ini maka penduduknya kembali melakukan perpindhan pemukiman kearah hulu dari koto Lipatkain yakni kelokasi dimuara sungai batang Olang, kampuang ini diberinama Koto Tuo. Koto Tuo inilah yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Negeri Lipatkain. Kemudian datanglah beberapa suku lagi kenegeri Koto Tuo yaitu suku Melayu Palokoto, Suku Melayu Bendang, suku Nelayu nan ompek, suku Domo, seningga negeri Koto Tuo didiami oleh delapan suku sehingga berdirinya kerajaan Gunung Sailan. Pada masa kerajaan Gunung Sailan terjadilah perkara yang tak selesai-selesai di negeri Bungo Setangkai dimana negeri terbelah menjadi dua praksi besar delapan suku terpecah menjadi dua golongan yang masing masing kokoh pada pendiriannya. Sehingga setiap persoalan tidak bisa diambil kata sepakat. Persoalan ini sampai kepada Raja Gunung Sailan, maka raja mengambil keputusan untuk menempatkan keturunannnya dari suku Piliang untuk menetap di Lipatkain sebagai penengah dari delapan suku yang berselisih. Sehingga negeri Lipatkain terdiri dari sembilan suku. (Sumber : Fahruddin Alm ). c. Kedatuan Kuntu Teoroba B.TEMUAN-TEMUAN BUKTI ARKEOLOGIS TENTANG DI RANTAU KAMPAR KIRI TENTANG a. Kedatuan Gunung Ibul b. Kedatuan Bungo Satangkai c. Kedatuan Kuntu Teoroba C. HUBUNGAN KEDATUAN GUNUNG IBUL DENGAN LAHIRNYA KERAJAAN GUNUNG SAILAN BAB IV PENUTUP C. KESIMPULAN D. SARAN-SARAN DAFTAR PUSTAKA Ismaun. 1993. Pengantar ilmu sejarah. Bandung : B3PTKSM. Gottschalk, Luis. 1975. Mengerti Sejarah. -: Universitas Indonesia. Widja, I Gde. 1988. Pengantar Ilmu Sejarah : Sejarah Dalam Perspektif Pendidikan. Semarang: Satya Wacana. Notosusanto, Nugroho. Norma–Norma Dasar Penelitian Sejarah. Jakarta: Penerbit Sej ABRI. Mansur MD, dkk (1974) . Sejarah Minangkabau. Bratara, Jakarta Muhtar Lutfi (1999). Sejarah Riau. LITBANG Rrov Riau Marlaili Rahim (1985). Sistem pemerintahan adat Kuantan dan Kampar Kiri. Diseminarkan dalam seminar kebudayaan Riau di Tanjung Pinang. http://tikachan.wordpress.com/kerajaan-sriwijaya/. diterima tanggal 01 Desember 2014 http://jakartapedia.net/index.php?title=Sriwijaya diterima tanggal 01 Desember 2014 http://bjn.wikipedia.org/wiki/Kedatuan_Sriwijaya. diterima tanggal 25 Nopember 2014 http://saefulhistory-sejarah-saefulhistory.blogspot.com/2012/02/c-prinsip-prinsip-dasar-penelitian.html. diterima tanggal 02 Desember 2014 http://www.riaueditor.com/viewp/PEKANBARU. diterima tanggal 28 Nopember 2014 http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbtanjungpinang/2014/06/08/kuntu-darussalam-kerajaan-islam-pertama-di-riau/. diterima tanggal 01 Desember 2014 http://sundullangit.wordpress.com/2012/07/04/geografi-sebagai-panggung-sejarah/. diterima tanggal 03 Desember 2014 http://indonesiakaya.com/search/result/budaya/?utm_source=google&utm_medium=cpc&utm_campaign=budaya. diterima tanggal 01 Desember 2014 http://annisadyah.blog.fisip.uns.ac.id/2012/02/25/perbedaan-kebudayaan-dan-peradaban/. diterima tanggal 02 Desember 2014 http://wirasaputra.wordpress.com/2011/10/13/nilai-budaya-sistem-nilai-dan-orientasi-nilai-budaya/. diterima tanggal 01 Desember 2014 DAFTAR NARASUMBER/RESPONDEN DAFTAR SITUS SEJARAH SASARAN EKSPLORASI DAN EKSKAVASI SEJARAH KEDATUAN GUNUNG IBUL HINGGA KERAJAAN GUNUNG SAILAN 1. SITUS BEKAS PERBENTENGAN DI GUNUNG IBUL VIC MARWAS 2. SITUS DANAU GUCI DI GUNUNG IBUL VIC MARWAS 3. BUKIT PEMATANG SIKAI (SITUS MAKAM DATUOK KUMBUOK) DI BUNGO SATANGKAI VIC ZALDI 4. SITUS KUBURAN CINA DI BUNGO SATANGKAI VIC ZALDI 5. SITUS TAKAE GODANG DI KOTO TUO LIPATKAIN VIC ZALDI 6. SITUS KOBUN RAJO DI KUNTU TEOROBA VIC JAFRI 7. SITUS MAKAM SYEKH BURHNUDDIN DI KUNTU TEOROBA VIC JAFRI 8. SITUS MAKAM RAJA-RAJA DI BATANG SIAONTAN KUNTU TEOROBA VIC JAFRI 9. SITUS BUKIK TAKOGHA (VILLA BELANDA) DI TANJUNG BELIT VIC ZULKIFLI 10. SITUS BATU LAGAN DI LIPATKAIN/BUNGO SATANGKAI VIC RIKO P 11. SITUS PERCANDIAN DI PT KPR (DESA LUBUK CIMPUR/KOENTU TURABA) VIC MANTAN MANAGER KEBUN TAHUN 1995 (AKHLAKUL KARIMA)